KITAINDONESIASATU.COM – Produksi lobster dari Vitenam sangat popular di kalangan konsumen di Tiongkok pada hal selama ini bibit lobster Vietnam diperoleh dari Indonesia.
Dilansir dari vietnamnews dari produksi itu penghasilan atau nilai ekspor Vietnam hingga paruh pertama Agus 2025 mencapai 57 juta dollar AS atau sekitar Rp935 ,2 miliar.
Menurut data statistik dari Departemen Bea Cukai Vietnam hingga 15 Agustus 2025 ekspor udang ke China termasuk Hongkong melonjak signifikan hingga 76 persen dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 767 juta dollar AS dan menyumbang 29 persen dari total omset ekspor udang di negara itu.
China memiliki konsumen sangat besar dan mencatat tingkat pertumbuhan terbaik udang ekspor dari Vietnam untuk tahun ini, baru parah partama Agustus nilai ekspor ke negara China mencapai 57 juta dollar AS yang diperkirakan akan terus naik hingga tahun mendatang.
Seperti dilaporkan Asosiasi dan produksen makanan laut Vietnam (VASEP) telah melaporkan pertumbuhan tiga digit untuk jenis lobster segar dan beku, yang mencerminkan permintaan konsumen yang kuat terhadap produk premium.
Selain lobster pertumbuhan udang windu ke pasar China juga tumbuh dua digit, semen tara udang kaki putih mencatan adanya penurunan.
Sementara dari data bea cukai China memperlihatkan bahwa dalam tujuh bulan pertama tahun 2025 Vietnam mengimpor sebanyak 519.000 ton udang air hangat beku, turun 2 persen dibanding tahun sebelumnya.
Namun nilai impor meningkat 7 persen menjadi 2,73 miliar dollar AS karena terjadi kenaikan rata-rata 9 persen menjadi 5,25 dollar AS per kilogramnya.
Pada bulan Juli 2025 saja volume impor China meroket hingga lebih dari 90 ribu ton, merupakan level tertinggi sejak tahun 2024, yang menunjukkan bahwa permintaan telah pulih setelah periode stagnasi.
Sementara berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) nilai ekspor lobster Indonesia pada tahun 2024 91,79 juta dollar AS menyumbang 1,5 persen dari total ekspor perikanan Indonesia.
Tentu saja jumlah ini terpaut jauh dengan data dari Vietnam yang nilai ekspor lobster sangat tinggi, pada hal bibit lobter Indonesia banyak yang dikirim ke Vietnam.
Namun terhitung 1 Agustus 2025 Presiden Prabowo scara resmi menghentikan sementara ekspor benih bening lobter (BBL) ke Vietnam, untuk mengevaluasi dan merombak total kelola sektor ini.
Diharapkan langkah ini akan mengembalikan kedaulatan negara dalam pengelola sumber daya alam khususnya lobster.
Dalam kebijakan baru ini, pemerintah juga menetapkan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk ekpor BBL sebesar Rp2.000 per eko BBL yang sebelumnya sebesar Rp3.000 ekor.
Pengekspor udang lobster sendiri di Indonesia dikuasi perusahaan Bandar Laut Dunia Grup (BALAD Grup) yang mendapatkan kuota budidaya ekapor sebesar 1 miliar ekor per tahun ke Vitenam.
Perusahaan ini menargetkan pasokan BBL dari tujuh provinsi di Indonesia antara lain dari DIY, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, Lampung, NTB dan NTT.
Sementara harga BBL juga telah ditetapkan dari pemerintah dengan harga terendah Rp8.500 di tingkat nelayan, namun demikian yang terjadi dilapangan nelayan sering menjual harga terendah kisaran Rp2.000 hingga Rp3.000 ribu per ekor, akibat praktik permainan harga.
Berdasarkan data yang diperoleh kebutuhan benih lonster Vietnam per tahun bisa mencapai 400-500 juta bibit per tahun dengan harga sekitar 2 dollar Amerika Serikat per ekornya tergantung jenis dan ukurannya.
Sementara harga lobster ukuran menengah seharga Rp700 – Rp800 ribuan, sedangkan lobter premium besar 1 kg harganya bisa mencapao Rp1.3 juta hingga Rp2,1 juta tergantung jenis dan kualitasnya. **




