KITAINDONESIASATU.COM – Bisnis ritel terdampak secara signifikan akibat jumlah kelas menengah yang menurun selama beberapa tahun terakhir ini.
Kondisi itu seperti dialami perkembangan bisnis ritel di Jakarta yang ikut terimbas berkurangnya kelas menengah dan berujung penurunan daya beli.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia tercatat 47,85 juta jiwa pada 2024, turun dibandingkan 2019 yang mencapai 57,33 juta jiwa.
Mengacu pada hasil survei Knight Frank Indonesia, disebutkan bahwa sektor ritel terbagi menjadi 4 segmen, yakni premium grade A, grade A, grade B, dan grade C yang mengalami tekanan berbeda-beda.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat, dalam konferensi pers di Jakarta, menjelaskan, segmen grade B dan grade C, yang umumnya menyasar kelas menengah, mengalami koreksi paling dalam.
Performa ritel grade B dan C, yang umumnya merupakan ritel strata, juga terlihat makin melemah dampak perluasan ruang belanja online dan berlanjutnya pelemahan daya beli.
Ritel atau mal memiliki dua jenis kepemilikan utama, yaitu strata dan sewa. Pada ritel strata, unit atau ruko dapat dibeli dan menjadi hak milik pemilik.
