KITAINDONESIASATU.COM – Tersembunyi di balik perbukitan Kabupaten Bangli, Bali, terhampar sebuah permata budaya yang telah mendunia: Desa Penglipuran. Desa adat ini tidak hanya memukau dengan arsitektur tradisionalnya yang terjaga, tetapi juga telah meraih reputasi sebagai salah satu desa terbersih di dunia, bahkan mendapat pengakuan dari berbagai lembaga internasional seperti Green Destinations Foundation dan UNESCO.
Daya tarik utama Desa Penglipuran terletak pada komitmen kuat masyarakatnya dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta melestarikan adat istiadat leluhur.
Jalan utama desa yang bersih tanpa sampah, deretan rumah tradisional berarsitektur seragam, dan keberadaan hutan bambu yang luas menciptakan suasana yang asri dan menenangkan.
Masyarakat Penglipuran menganut filosofi “Tri Hita Karana”, yang menekankan tiga hubungan harmonis: antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Filosofi ini tercermin dalam tata ruang desa yang terbagi menjadi tiga zona (Tri Mandala) dan juga dalam perilaku sehari-hari warganya yang sangat menjaga kebersihan.
Tidak heran, Desa Penglipuran menjadi destinasi favorit bagi wisatawan yang mencari pengalaman budaya otentik dan lingkungan yang lestari.
Kondisi lainnya yang membuat pengunjung betah adalah desa ini memiliki wilayah hutan yang cukup luas. Merujuk pada situs resmi Kemenparekraf, Desa Penglipuran berdiri di atas tanah seluas 112 Ha. Setidaknya terdapat 50 Ha diperuntukan untuk lahan pertanian.
Lalu, 45 Ha digunakan untuk lahan hutan bambu. Selanjutnya seluas 4 Ha digunakan untuk hutan kayu. Sedangkan 9 Ha digunakan untuk pemukiman warga dan 4 Ha untuk fasilitas umum. Sehingga bisa disimpulkan jika desa ini memiliki lahan hijau yang lebih luas ketimbang tempat tinggal masyarakat.
