News

Keren! Anak-Anak Bogor Ciptakan Game Pemungut Sampah, Bikin Wali Kota Takjub

×

Keren! Anak-Anak Bogor Ciptakan Game Pemungut Sampah, Bikin Wali Kota Takjub

Sebarkan artikel ini
anak-anak bogor
Dedie Rachim menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya melihat anak-anak usia dini mempresentasikan ide-ide dalam menciptakan teknologi untuk menyelamatkan lingkungan. (KIS/IST)

KITAINDONESIASATU.COM– Puluhan anak usia 5 hingga 15 tahun memukau Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, dengan ide-ide inovatif mereka dalam menyelamatkan lingkungan melalui teknologi.

Dalam acara Project Expose 2025 bertema “Eco Hero: Pahlawan Inovasi Penyelamat Lingkungan” yang diselenggarakan oleh Nanorobotic bekerja sama dengan Bank Jabar Banten Syariah (BJBS) di Aula BJBS, Jalan Pajajaran, para peserta mempresentasikan karya-karya mereka yang mencerminkan kepedulian terhadap isu lingkungan.

Dedie Rachim menyampaikan rasa bangga dan apresiasinya melihat anak-anak usia dini mempresentasikan ide-ide dalam menciptakan teknologi untuk menyelamatkan lingkungan.

“Jadi saya bangga. Ternyata sudah banyak karya anak-anak yang masih kecil, tapi sudah diarahkan bagaimana kecintaan mereka terhadap lingkungan,” ujarnya saat dikutip kitaindonesiasatu.com, Rabu, 4 Juni 2025.

Beberapa ide yang disampaikan adalah terkait teknologi yang bisa mencegah sampah masuk ke lautan dan juga cara membersihkan sampah di lautan. Ide yang sama juga dipresentasikan anak-anak tentang bagaimana menjaga kebersihan sungai dan memungut sampah di sungai menggunakan teknologi.

“Jadi ini dipresentasikan dalam wujud dalam bentuk game yang codingnya dibuat langsung oleh anak-anak,” ucap Dedie Rachim. Sehingga, lanjut Dedie Rachim, hal ini bisa menjadi bekal untuk anak-anak menjadi programmer ataupun aplikator atau ahli robotic yang bisa menyelesaikan permasalahan lingkungan.

Nanorobotic merupakan lembaga pendidikan nonformal yang menjadi platform edukasi dan kolaborasi untuk pembelajaran robotik dan coding bagi anak-anak usia 3 hingga 15 tahun.

Founder Nanorobotic, Yulia Mustika Wati, menyatakan bahwa kegiatan ekspose ini merupakan rangkaian dari pembelajaran anak-anak selama kurang lebih empat hingga lima bulan.

“Setelah mereka selesai pembelajaran di setiap levelnya, mereka kita beri ruang untuk mempresentasikan ide karya mereka seperti ini,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *