KITAINDONESIASATU.COM – PT Semen Gresik akan investasi Rp10 triliun hingga tahun 2030, untuk mengembangkan pabrik baru termasuk produksi semen hijau.
Ada beberapa proyek dan investasi yang terkait dengan industri semen di Indonesia yang bersarnya mencapai nilai tersebut, yakni:
Pabrik Semen di Aceh
PT Kobexindo Cement, merupakan konsorsium dengan Hongshi Holding Group dari China, akan membangun pabrik semen berkapasitas 6 juta ton dengan nilai investasi Rp10 triliun di Kabupaten Aceh Selatan.
Proyek ini tidak terkait secara langsung dengan SIG, tetapi akan mempengaruhi industri semen nasional.
Investasi Pelindo:
PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo, yang berinvestasi dalam proyek Makassar New Port (MNP), telah menginvestasikan Rp5,4 triliun dan berencana untuk meningkatkan investasi hingga Rp10 triliun.
Namun, ini bukanlah investasi yang terkait dengan industri semen.
PT Semen Indonesia sendiri telah mencatatkan pendapatan Rp 8,38 triliun pada kuartal I tahun 2024, tetapi tidak disebutkan bahwa mereka memiliki investasi Rp10 triliun dalam satu proyek.
Rencana itu terungkap saat SIG meraih lima Penghargaan PaDi Expo & Conference Award 2024, Selasa 27 Agustus di Jakarta.
Saat ini SIG mengembangkan demen hijau merupakan inovasi ramah lingkungan dengan emisi karbon 21%-38% lebih rendah dibandingkan semen konvensional.
Material ini digunakan dalam berbagai aplikasi konstruksi, termasuk pembangunan infrastruktur di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Produksi semen hijau (green cement) meminimalisasi emisi karbon melalui beberapa cara:
Penggunaan Bahan Baku Ramah Lingkungan
Semen hijau menggunakan bahan baku yang lebih ramah lingkungan, seperti limbah tembaga, limbah padat bekas batu bara (FABA), dan limbah peleburan besi.
Hal ini mengurangi penggunaan bahan alami yang berpotensi menghasilkan emisi karbon tinggi.
Pengurangan Klinker
Semen hijau juga mengurangi penggunaan klinker dalam produksi semen. Klinker adalah komponen utama dalam produksi semen konvensional yang berkontribusi besar pada emisi karbon.
Dengan mengurangi klinker, emisi karbon dapat berkurang hingga 22,1%.
Implementasi Teknologi Penangkapan dan Utilisasi Karbon (CCU) – Teknologi CCU dapat mengurangi emisi karbon dari industri semen hingga 60%. Meskipun teknologi ini masih dalam tahap pengembangan dan memerlukan investasi besar, seperti pembangunan pabrik baru sekitar Rp10 triliun, CCU dijadwalkan diterapkan di industri semen nasional pada 2030.
Penggunaan Energi Alternatif – Beberapa perusahaan semen, seperti Holcim, menggunakan energi angin untuk mengurangi emisi karbon. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan energi alternatif dapat menjadi strategi efektif dalam mengurangi emisi karbon.
Pembangunan Ekosistem Bisnis Berbasis Sinergi – Perusahaan seperti PT Semen Indonesia (SIG) membangun ekosistem bisnis berbasis sinergi dengan kerja sama dengan perusahaan lain untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi emisi karbon.
Contohnya, SIG bekerja sama dengan PT Bina Karya (Persero) untuk memastikan pembangunan berkelanjutan di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dengan kombinasi dari strategi di atas, produksi semen hijau dapat signifikan mengurangi emisi karbon dan menjadi solusi berkelanjutan dalam industri konstruksi. (**)


