KITAINDONESIASATU.COM – Kadaplak adalah kendaraan mainan khas Desa Suntenjaya yang dibuat dari rangka bambu dan memiliki empat roda kayu.
Sistem kemudinya dikendalikan menggunakan kaki, sementara pergerakannya mengandalkan gaya gravitasi, sehingga membutuhkan lintasan miring agar dapat melaju.
Pengalaman meluncur dengan Kadaplak di lintasan tanah berlereng merupakan sensasi yang tak terlupakan.
Pengemudi bisa merasakan adrenalin berpacu saat kendaraannya melaju kencang, terutama ketika mengikuti balapan dengan peserta lainnya.
Hasrat untuk menjadi yang pertama di garis finis bercampur dengan rasa cemas karena Kadaplak tidak dilengkapi dengan sistem pengereman.
Bagian paling sulit adalah mengendalikan kemudi. Kadaplak berbelok menggunakan kaki, jadi perlu keseimbangan dan konsentrasi penuh.
Meski merupakan permainan tradisional desa, banyak dari penduduk desa yang jarang memainkannya karena lebih sering menghabiskan waktu dengan gawai.
Warisan Sejarah dari Masa Tanam Paksa
Kadaplak bukan sekadar permainan, tetapi juga memiliki nilai sejarah yang kuat.
Berdasarkan penelitian para pelestari permainan tradisional, kendaraan ini sudah ada sejak tahun 1938, saat Belanda menerapkan sistem tanam paksa di wilayah Priangan.
Pada masa itu, warga pribumi diwajibkan menanam tembakau. Anak-anak petani di Desa Suntenjaya memanfaatkan Kadaplak sebagai alat bantu untuk mengangkut hasil panen dari kebun yang berada di perbukitan.
Gunawan Azhari, pelestari permainan tradisional Kadaplak, menjelaskan bahwa selain teh, kopi, dan kina, wilayah Lembang juga menjadi pusat perkebunan tembakau pada awal 1900-an.
Masyarakat Suntenjaya hingga perbatasan Maribaya diwajibkan membuka lahan hutan untuk menanam bahan baku rokok tersebut.
“Anak-anak ikut berperan, mulai dari menanam hingga mengangkut hasil panen dengan Kadaplak,” tambahnya.
Melihat nilai sejarah yang begitu besar, Gunawan berharap Kadaplak bisa ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) agar tetap lestari dan tidak diklaim oleh negara lain.
Selain itu, ia menilai permainan ini memiliki nilai edukasi tinggi, terutama dalam mengajarkan sejarah kolonialisme kepada generasi muda.
“Kami ingin Kadaplak diakui sebagai warisan budaya tak benda agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya.- ***
