News

Pemakzulan Bersejarah di Filipina: Sang Wapres Dituntut Atas Dugaan Korupsi dan Konspirasi Pembunuhan

×

Pemakzulan Bersejarah di Filipina: Sang Wapres Dituntut Atas Dugaan Korupsi dan Konspirasi Pembunuhan

Sebarkan artikel ini
FotoJet 2 7
Sara Duterte dulunya bersekutu dengan Marcos Jr, kini terlibat dalam perebutan kekuasaan. (Foto: Rolex dela Peña/EPA)

KITAINDONESIASATU.COM – Wakil Presiden Filipina, Sara Duterte, telah dimakzulkan oleh DPR pada Rabu atas berbagai tuduhan, termasuk dugaan merencanakan pembunuhan Presiden Ferdinand Marcos Jr., keterlibatan dalam korupsi besar-besaran, serta kegagalannya dalam bersikap tegas terhadap agresi Tiongkok di Laut Cina Selatan yang disengketakan.

Langkah ini, –yang didukung oleh banyak legislator pro-Marcos– semakin memperburuk ketegangan politik antara dua pemimpin tertinggi di Filipina. Demikian dilaporkan The Guardian pada Kamis, 6 Februari 2025.

Sementara Marcos memperkuat aliansi pertahanan dengan Amerika Serikat, Duterte dan ayahnya, mantan Presiden Rodrigo Duterte, dikenal memiliki hubungan dekat dengan Tiongkok dan Rusia selama masa jabatannya yang kontroversial hingga 2022.

Sara Duterte belum memberikan komentar langsung atas pemakzulannya.

Saudaranya, Paolo Duterte, mengecamnya sebagai “penganiayaan politik yang jelas.”

DPR kini bergerak cepat untuk mengajukan kasus ini ke Senat guna menjalani proses persidangan pemakzulan.

Sebanyak 215 anggota DPR menandatangani petisi pemakzulan, jauh melampaui jumlah minimum yang dibutuhkan untuk membawa kasus ini ke Senat.

Di antara mereka adalah putra Presiden, Sandro Marcos, serta Ketua DPR Martin Romualdez. Mereka mendesak Senat untuk mengadili Duterte, menjatuhkan vonis bersalah, dan melarangnya dari jabatan publik.

Dalam dokumen pemakzulan, Duterte dituduh menunjukkan “pengkhianatan terhadap kepercayaan publik dan penyalahgunaan kekuasaan yang serius,” yang dianggap membuktikan ketidaklayakannya untuk terus menjabat.

Duterte mencalonkan diri sebagai wakil presiden pada 2022 berpasangan dengan Marcos dengan janji persatuan nasional.

Meskipun keduanya berasal dari keluarga yang memiliki sejarah kontroversial, –Marcos sebagai putra diktator yang digulingkan pada 1986 dan Duterte sebagai putri mantan presiden yang dikenal dengan kebijakan perang narkoba yang brutal– dukungan kuat dari basis mereka membawa kemenangan besar dalam pemilu.

Namun, hubungan politik mereka segera memburuk setelah menjabat.

Pemakzulan Duterte berpusat pada berbagai tuduhan, termasuk ancaman pembunuhan yang ia buat terhadap Presiden Marcos, istrinya, dan Ketua DPR pada 2023.

Ia sempat menyatakan dalam konferensi pers bahwa dirinya telah menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi ketiga tokoh itu jika ia sendiri terbunuh, meskipun kemudian ia menyebut pernyataan itu bukan ancaman, melainkan ekspresi kekhawatiran atas keselamatannya.

Selain itu, ia dituduh menyalahgunakan dana rahasia dan intelijen senilai 612,5 juta peso (sekitar $10,5 juta) selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan, jabatan yang kemudian ia tinggalkan akibat perselisihan dengan Marcos.

Dugaan memiliki kekayaan yang tidak dapat dijelaskan dan kegagalannya melaporkan asetnya sebagaimana diwajibkan hukum juga menjadi bagian dari tuduhan.

Duterte juga dikritik karena tidak bersikap tegas terhadap agresi Tiongkok di Laut Cina Selatan, yang bertentangan dengan kebijakan pemerintahan Marcos yang lebih proaktif dalam menghadapi Beijing.

Ia dituduh diam dan menghindari pernyataan tegas mengenai isu tersebut, sementara ia dikenal vokal dalam isu-isu lainnya.

Dengan pemakzulan ini, masa depan politik Duterte kini berada di tangan Senat, yang akan menentukan apakah ia akan dicopot dari jabatannya secara permanen.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *