NewsBerita Utama

Pelaku Mutilasi Koper Merah Mengaku Dihantui, Sempat Berfikir Lari ke Taiwan

×

Pelaku Mutilasi Koper Merah Mengaku Dihantui, Sempat Berfikir Lari ke Taiwan

Sebarkan artikel ini
SOSOK PELAKU MUTILASI
Pelaku saat di Hotel Adisurya Kediri dan profil pelaku dan korban. foto: istimewa

KITAINDONESIASATU.COM – Kasus pembunuhan dan mutilasi yang melibatkan tersangka Rohmad Tri Hartanto alias Atok (33) ternyata mengungkap perasaan ketakutan setelah melakukan pembunuhan dan mutilas kepada pacar gelapnya, Uswatun Khasanah (29).

Meskipun selama ruang Jatanras tersangka diperlakukan biasa dengan suasana kegembiraan para pemburu kejahatan yang tidak tidur selama 3 hari itu Antok tetap gelisah.

Seperti kita ketahui Antok mencekik pacar gelapnya hingga meninggal dunia kemudian memutilasi di kamar 301 sebuah hotel di Kediri, Minggu (19/1/2025) tengah malam.

Pasca peristiwa itu Antok sempat curhat kepada temannya seorang anggota polisi saat diinterogasi penyidik seperti diungkapkan dalam unggahan anggota akun sosial media TikTok @hellboyjatanraspolda dikutip, Kamis (30/1/2025).

Antok mengatakan agar segera menyelesaikan masalahnya biar cepat terselesaikan itu saran dari sahabatnya yang juga anggota kepolisian.

Ada Sosok Pria Lain, Saat Pelaku Mutilasi Angkat Koper Merah Berisi Jasad Uswatun Khasanah

Kasus Mutilasi Koper Merah, Setelah Dibunuh Jasad Korban Sempat Menginap di Rumah Kosong Neneknya

Saat itu rupanya Antok tidak mengaku kepada sahabatnya itu jika Uswatun Khasanah sebenarnya dirinya yang melakukan mutilasi.

Bahkan ketika Antok diperiksa penyidik Jatanras Polda Jatim masih sempat minta izin ambil makanan dulu.

Kemudian Anton menceritakan yang terjadi kepada dirinya saat mendengar adanya penemuan mayat dalam koper di Ngawi, saat itu dia langsung pulang ke rumah di Tulungagung.

Antok mengatakan langsung berpamitan dengan ibu kandungnya di Desa Sambi dan, kepada dua anak perempuannya dan istri sayahnya di rumahnya di Pakel, Tulungagung.

Motif Pembunuhan Mutilasi Uswatun Khazanah Karena Asmara, Dilakukan di Kamar Hotel di Kediri

Menurut Antok orang pertama yang yang dipamiti adalah sang ibu di Desa Sambi baru kemudian meluncur berpamitan kepada dua anak perempuan dan istrinya di Desa Pakel.

“Saya ke Sambi dulu menemui ibu, terus meluncur pulang ker rumah nemuin anak istri,” kata Antok dikutip dari tribunjatim.com, Kamis (30/1/2025).

Menurut Anto dari kejadian itu ibu kandungnya yang merasakan, namun Antok tidak menceritakan ungkapan apa yang disampaikan ibunya.

Pelaku Mutilasi Minta Maaf dan Menangis, Diminta Menikahi Korban Dengan Syarat yang Berat

Pasca peristiwa itu Antok sendiri juga sempat berfikir ingin kabur ke luar negeri, dimana dia pernah bekerja ke Taiwan selama 6 tahun.

Namun Antok akhirnya berfikir panjang pasca kejadian pembunuhan dan mutilasi kepada pacar gelapnya itu, ia pun kemudian pasrah.

Antok mengaku pasrah dan akan mempertanggung jawabkan perbuatannya, ia menyadari jika lari dari masalah akan tetap dihantui.

Selama ini ayah dari dua anak perempuan ini mengaku selalu dihantui perasaan bersalah.

“Meskipun kita lari dari masalah pasti nanti akan tetap merasa dihantui,” jelas Antok.

Bahkan pada Jumat (24/1/20205) kepada penyidik Antok sempat bertemu tim Cacing Api Jatanras Polda Jatim.

Menurut Anto pada Jumat malam Tim Cacing Api Jatanras Polda Jatim melintasi depan rumahnya melakukan pengintaian.

Fakta Baru Kemarahan Antok Mutilasi Kekasih Gelapnya, Menghina Anak Perempuannya dan Lagu Sephia Siela On 7

Usai kejadian mutilasi di hotel itu Anton sendiri sempat bepergian ke beberapa tempat, seperti ke Blitar berhenti di SPBU, kemudian ke Ponorogo terus pulang ke Tulungagung.

Antok pulang ke rumah sekitar 19:00 WIB kemudian pukul 21:00 keluar lagi meninggalkan rumah di Desa Pakel Tulungagung, Jawa Timur.

Kasubdit II Jatanras Ditreskrimum polda Jatim, AKBP Arbaridi Jumhur mengatakan jika dalam pemeriksaan dilakukan dengan santai, namun Antok tak kuasa menahan tangis ketika bercerita tentang keluarga dan anak-anak perempuannya.

Seperti diberitakan sebelumnya terungkapnya kasus pembunuhan dan mutilasi Uswatun Khasanah warga Sidodadi, Garum, Kabupaten Blitar setelah ditemukan koper merah berisi potongan tubuh manusia.

Seorang warga di Desa Dadapan, Kecamatan Kendal, Ngawi menemukan koper setelah dibongkar ternyata berisi tiga potongan tubuh dan dua potongan kaki dibungkus coverbed hotel.

Pelaku Mutilasi Koper Merah Ketua Ranting Pencak Silat Tulungagung Terancam Hukuman Mati

Kemudian setelah dilakukan sejumlah pemeriksaan mendalam dan pencocokan diketahui jasad tersebut identik dengan Uswatun Khasanah warga Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.

Diketahui korban adalah seorang janda berada dua berusia 29 tahun, yang bekerja sebagai sales produk kosmetik dan ngekos di Kota Tulungagung.

Beberapa hari setelah pengungkapan identitas jasad korban di dalam koper merah, polisi kemudian menangkap pelaku di Jalan Raya Madiun-Ponorogo, Minggu (26/1/2025) tengah malam.

Hingga keesokan harinya Senin (27/1/2025) polisi juga mengungkan kepala dibungkus tas kresek di Watulimo Trenggalek yang diduga merupakan kepala korban.

Pada hari yang sama juga ditemuka potongan dua kaki terbungkus rapi seperti paket kiriman di semak-semak di pinggir jalan di Desa Sampung, Kecamatan Sampung Ponorogo.

Kasus Mutilasi Koper Merah, Pelaku Cemburu Korban Pernah Mengajak Pria Lain ke Kamar Kosnya

Kedua bungkusan itu setelah dicocokan merupakan bagian dari potongan tubuh di dalam koper merah yang ditemukan di Ngawi, sejak penemuan dua bungkusan itu kini melengkapi jasad Uswatun yang terpotong-potong.

dari Dusun Banaran, Desa Gombal, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung ini, kini ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan dan mutilasi terhadap pacar gelapnya Uswatun Khasanah.

Peristiwa tragis itu dilakukan tersangka di dalam kamar 301 sebuah hotel di Kota Kediri, Jawa Timur yang dilakukan pada Minggu (19/1/2025) tengah malam.

Hingga korban membuang potongan jasad kurban yang dibungkus menjadi tiga bagian dua berisi kepala korban, satu bagian berusu potongan kaki dan tiga bagian tubuh dan potongan kaki di masukkan dalam koper merah.

Tiga bagian tubuh korban itu kemudian di buang di sebuah sungai kecil di Watulimo, Trenggalek, kemudian di semak-semak pinggir jalan raya di Desa Sampung, Ponorogo dan koper merah di desa Dadapan, Ngawi. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *