Lifestyle

Haminjon: Dulu Setara Emas, Kini Berjuang Melawan Waktu

×

Haminjon: Dulu Setara Emas, Kini Berjuang Melawan Waktu

Sebarkan artikel ini
FotoJet 1 30
Haminjon, sejenis kemenyan yang berasal dari tanaman Styrax Benzoin atau Olibanum.

KITAINDONESIASATU.COM – Masyarakat Batak di masa lampau memiliki komoditas berharga yang sebanding dengan emas, yakni haminjon, sejenis kemenyan yang berasal dari tanaman Styrax Benzoin atau Olibanum.

Haminjon ini banyak ditemukan di wilayah sekitar Danau Toba, terutama di daerah Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, dan kawasan sekitarnya seperti Kecamatan Pollung, Parlilitan, Dolok Sanggul, dan Sijamapolang.

Sejak abad ke-5 Masehi, haminjon telah menjadi komoditas bernilai tinggi. Selain digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk campuran rokok, antiseptik, pengawet, dan parfum, kemenyan ini juga memainkan peran penting dalam budaya dan perdagangan internasional.

Pada masa itu, harga haminjon setara dengan emas. Pedagang dari Timur Tengah, seperti dari Arab dan Mesir, merupakan pembeli utama produk ini.

Bahkan, kemenyan Batak digunakan dalam tradisi Mesir kuno sebagai bahan pengawet mumi. Melalui Pelabuhan Barus, haminjon diekspor ke Timur Tengah dan dihargai setara dengan emas serta mur.

Pada tahun 1920, surat kabar Imanuel yang diterbitkan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) melaporkan bahwa produksi haminjon mencapai lebih dari 1,8 ton dengan nilai jual sekitar 1,5 juta gulden.

Namun, meski perdagangan kemenyan menghasilkan keuntungan besar bagi pedagang besar, petani kemenyan hanya bisa menerima harga yang ditentukan pengepul tanpa banyak kontrol.

Seiring waktu, harga haminjon menurun drastis. Saat ini, harga kemenyan berkualitas tinggi hanya berkisar Rp230.000 hingga Rp250.000 per kilogram, jauh di bawah nilai historisnya.
Penurunan ini, menurut petani, disebabkan oleh praktik penimbunan yang merugikan pasar.

Akibatnya, generasi muda Batak semakin enggan melanjutkan tradisi bertani kemenyan karena dianggap tidak lagi menguntungkan.

Sebagian besar dari mereka lebih memilih merantau atau bekerja di sektor lain. Sementara itu, petani tua terus berjuang mempertahankan tradisi ini meski menghadapi banyak tantangan.

Sejarah kemenyan Batak yang dahulu menjadi kebanggaan kini tinggal kenangan yang perlu dijaga.

Para petani berharap generasi penerus dapat kembali menghargai dan melestarikan kemenyan sebagai bagian dari warisan budaya yang berharga.- ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *