Berita Utama

Pameran Yos Suprapto Gagal Dibuka Akibat Kontroversi Lima Lukisan, Anies Baswedan Beri Tanggapan

×

Pameran Yos Suprapto Gagal Dibuka Akibat Kontroversi Lima Lukisan, Anies Baswedan Beri Tanggapan

Sebarkan artikel ini
Pameran Yos Suprapto Gagal Dibuka Akibat Kontroversi Lima Lukisan, Anies Baswedan Beri Tanggapan
Pameran Yos Suprapto Gagal Dibuka Akibat Kontroversi Lima Lukisan, Anies Baswedan Beri Tanggapan

KITAINDONESIASATU.COM – Pameran tunggal karya Yos Suprapto di Galeri Nasional Indonesia (Galnas) yang direncanakan berlangsung pada Kamis, 19 Desember 2024, batal dibuka.

Penyebabnya adalah keputusan pihak Galnas yang melarang pembukaan pameran karena Yos Suprapto menolak menurunkan lima lukisan dari total 30 karya yang akan dipamerkan.

Yos menjelaskan bahwa kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, meminta lima lukisan tersebut untuk dicabut dari pameran.

Lukisan-lukisan tersebut dianggap memiliki keterkaitan dengan sosok yang pernah memegang kekuasaan di Indonesia.

BACA JUGA : Galeri Nasional Bredel Pameran Tunggal Lukisan Karya Yos Suprapto

Kontroversi mengenai pelarangan ini menarik perhatian berbagai pihak, termasuk Anies Baswedan, yang turut memberikan komentar terkait masalah tersebut.

Kadang, cara terbaik menggaunglantangkan sesuatu adalah dengan mencoba menutupinya,” tulis Anies di akun X miliknya, dikutip Sabtu (21/12/2024).“Seberapapun seni dilarang, ia akan selalu menemukan jalannya,” imbuhnya.

Profil dan Perjalanan Hidup
Yos Suprapto, lahir di Surabaya pada 26 Oktober 1952, adalah seorang seniman, pelukis, dan aktivis yang dikenal akan kepeduliannya terhadap isu sosial dan lingkungan. Ketertarikannya pada seni muncul sejak usia muda, hingga membawanya menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta pada 1970. Namun, ia memutuskan keluar tiga tahun kemudian.

Yos melanjutkan studi di Southern James Cook University, Australia, dan memperoleh gelar PhD di bidang Sosiologi Kebudayaan. Selama lebih dari 25 tahun tinggal di Australia, ia aktif dalam penelitian dan organisasi lingkungan, termasuk menjadi ketua The Rainforest Information Centre di Lismore.

Sebagai seniman, karya-karya Yos didominasi warna-warna simbolis seperti hitam, merah, biru, dan hijau, dengan gaya abstrak yang kerap menyampaikan kritik sosial. Ia telah menggelar berbagai pameran tunggal, di antaranya Bersatu Dengan Alam (1994), Barbarisme: Perjalanan Anak Bangsa (2001), dan Republik Udang (2005). Pameran-pamerannya tidak hanya menyoroti isu lingkungan, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap korupsi dan kondisi sosial-politik Indonesia.

Selain seni, Yos juga memiliki keahlian di bidang pertanian. Ia menulis buku berjudul Aplikasi Pupuk Kandang yang Ramah Lingkungan dalam Perspektif Budaya (2022) dan meneliti kandungan mineral selama lebih dari 10 tahun.

Pameran terakhirnya di Galeri Nasional pada 2017 bertajuk Arus Balik Cakrawala mengangkat tema budaya maritim dan evaluasi perjalanan bangsa. Salah satu lukisannya, Adu Domba, menjadi simbol kritik atas praktik politik yang memecah belah masyarakat demi kekuasaan.

Hingga kini, Yos Suprapto tetap dikenal sebagai seniman dan aktivis yang konsisten mengangkat isu sosial dan lingkungan melalui karya-karyanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *