KITAINDONESIASATU.COM – Sukabumi saat ini tengah dilanda bencana hidrometeorologi berupa longsor dan banjir yang menyebabkan kerusakan infrastruktur serta membahayakan keselamatan warga.
Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet, menyatakan bahwa selain cuaca ekstrem, kerusakan ekosistem di daerah hulu turut berperan sebagai penyebab utama bencana di Sukabumi.
Slamet mengungkapkan bahwa banyak kawasan hutan di daerah hulu yang seharusnya berfungsi sebagai pelindung lingkungan kini gundul dan terlantar.
Ia menyampaikan hal ini dalam interupsi pada Rapat Paripurna di Gedung Nusantara II, DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (5/12/2024).
“Bencana longsor dan banjir di Sukabumi tidak hanya disebabkan oleh cuaca ekstrem, tetapi juga akibat kerusakan ekosistem di daerah hulu. Banyak kawasan hutan yang dulunya subur dan menjadi penyangga lingkungan kini gundul dan terlantar,” ujar Slamet, seperti ditulis Parlementaria pada Jumat, 6 Desember 2024.
Slamet juga menyoroti peran perusahaan negara dalam kerusakan lingkungan, khususnya terkait lahan HGU yang tidak terkelola dengan baik.
Ia mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah kebijakan untuk memulihkan fungsi kawasan hutan di daerah hulu.
“Lahan HGU milik perusahaan negara seperti PTPN, yang sebelumnya produktif sebagai kebun karet atau tanaman keras, kini banyak yang dibiarkan tidak terawat. Oleh karena itu, saya mendesak pemerintah untuk segera melakukan reboisasi dan penertiban penggunaan lahan,” tegas Slamet.
Slamet menekankan pentingnya menjaga kawasan hulu agar tidak mengalami degradasi lebih lanjut, karena dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat di hilir.
Sebelumnya, Slamet juga menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah yang terjadi, khususnya di daerah pemilihannya, Kota Sukabumi dan Kabupaten Sukabumi.
Bencana ini telah merusak infrastruktur dan memberikan dampak besar bagi masyarakat yang kehilangan rumah, kebun, dan harta benda.
Lebih lanjut, Slamet meminta agar pemerintah pusat, terutama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), segera turun tangan untuk memberikan bantuan nyata, seperti tenda darurat, makanan, obat-obatan, selimut, peralatan masak, dan logistik lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat yang terdampak.
Dampak bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Sukabumi pada 4 Desember 2024 semakin meluas.
Dari 22 kecamatan yang terdampak, kini telah menyebar ke 30 kecamatan. Bencana ini didominasi oleh tanah longsor, namun banjir menjadi dampak paling parah.
Data terbaru mencatat tanah longsor terjadi di 63 titik, banjir di 30 titik, angin kencang di 15 titik, dan pergerakan tanah di 16 titik.- ***


