KITAINDONESIASATU.COM — Dalam perjalanan spiritual seorang muslim, mengukur sejauh mana kedekatan hubungan dengan Sang Pencipta sering kali menjadi pertanyaan yang mendalam.
Syaikh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari memberikan jawaban jernih mengenai hal tersebut melalui pencerahan spiritual yang tertuang dalam hikmah ke-83 kitab masterpiecenya, Al-Hikam.
Ibnu ‘Athaillah menegaskan bahwa siapapun yang ingin mengetahui kedudukannya di hadapan Allah SWT, hendaknya ia mengamati dalam hal apa Allah menempatkan dirinya saat ini. Seseorang yang disibukkan oleh Allah dalam ketaatan, dzikir, serta pelayanan terhadap sesama, sesungguhnya sedang diberikan kedudukan yang mulia di sisi-Nya.
Sebaliknya, jika seseorang senantiasa terjebak dalam kelalaian dan maksiat, hal itu menjadi penanda pudarnya posisi spiritual orang tersebut.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa hikmah ini menjadi acuan introspeksi diri (muhasabah) tanpa perlu merasa takabur. Kedudukan seorang hamba di sisi Allah sangat mencerminkan sejauh mana Allah bertahta di dalam hatinya.
Pesan ini mengajak setiap orang untuk senantiasa bersyukur bila diberi kesempatan berbuat baik dan bergegas bertaubat saat tergelincir dalam kesalahan.(*)

