KITAINDONESIASATU.COM – Dalam ajaran tasawuf karya Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari, Hikmah ke-77 Kitab Al-Hikam menegaskan pentingnya memahami hakikat penghambaan yang sejati di hadapan Allah SWT.
Seseorang yang telah mencapai derajat ma’rifat (‘arifin) tidak lagi beribadah hanya demi mengejar balasan pahala atau kenikmatan duniawi. Bagi mereka, puncak spiritual terletak pada kesungguhan dalam murni mengabdi serta mengakui segala kelemahan diri.
Para ulama menjelaskan bahwa seorang hamba yang paham hakikat dirinya tidak akan mengklaim keberhasilan ibadah sebagai hasil kehebatannya sendiri, melainkan menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan melangkah dalam ketaatan adalah murni anugerah dari Tuhan.
Pengakuan atas rasa butuh (faqir) yang mendalam ini menjaga jiwa dari sifat pamer (riya’) dan kesombongan spiritual.
Melalui hikmah ini, umat Islam diajak untuk meluruskan niat dalam setiap amalan sehari-hari. Penghambaan tidak cukup diucapkan lewat lisan, tetapi harus dibuktikan dengan kerendahan hati, kemurnian niat, dan keikhlasan tanpa rasa pamrih.
Dengan menyadari status diri sebagai hamba yang berserah diri, seseorang dapat meraih ketenangan batin yang sejati baik di dunia maupun di akhirat.(*)

