KITAINDONESIASATU.COM — Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berpotensi melanjutkan pelemahan pada pekan depan setelah gagal menembus zona resistance penting.
Analisis teknikal menunjukkan tekanan jual masih membayangi pasar, meskipun risiko geopolitik berpotensi memicu perubahan arah harga secara mendadak.
Dupoin Futures menilai kegagalan WTI menembus area resistance mengindikasikan bahwa tekanan jual masih cukup kuat. Selama harga belum mampu menembus dan bertahan di atas zona tersebut, peluang koreksi dinilai masih terbuka.
Secara teknikal, pergerakan WTI berpotensi membentuk pola ABC Correction, yakni pola koreksi setelah pergerakan harga sebelumnya. Area support menjadi perhatian untuk menilai apakah pelemahan akan berlanjut atau justru diikuti pemulihan.
Namun, proyeksi tersebut bukan kepastian. Pergerakan harga minyak tetap dipengaruhi keseimbangan permintaan dan pasokan, serta perkembangan konflik di kawasan penghasil energi.
Pemulihan Pasokan dan Konflik Geopolitik Jadi Penentu
Dari sisi fundamental, pemulihan pasokan minyak global berpotensi membatasi kenaikan harga. Apabila distribusi energi di Timur Tengah kembali normal dan volume ekspor meningkat, kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan dapat berkurang.
Tambahan pasokan dari produsen lain juga berpotensi meredakan tekanan pasar. Kondisi ini dapat memperkuat skenario pelemahan WTI, terutama apabila tekanan jual secara teknikal masih dominan.
Sebaliknya, risiko geopolitik menjadi faktor yang dapat menggagalkan proyeksi tersebut. Gangguan pelayaran, serangan terhadap kapal tanker, serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah berpotensi menghambat distribusi minyak mentah.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial karena jalur tersebut berperan penting dalam perdagangan energi global. Penurunan lalu lintas kapal melalui kawasan ini dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dan memicu volatilitas harga.
Dengan demikian, pasar minyak menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Normalisasi pasokan dapat menekan harga, sedangkan gangguan distribusi berpotensi mendorong kenaikan kembali.




