Bisnis

IHSG Terus Tertekan, Rupiah Mendekati Rp18.000: Ini Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia

×

IHSG Terus Tertekan, Rupiah Mendekati Rp18.000: Ini Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia

Sebarkan artikel ini
ihsg
Dok. IHSG. (Pixabay)

KITAINDONESIASATU.COM – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi perhatian pasar pada Selasa (29/9/2026). Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan angka merah di layar perdagangan saham, tetapi juga menjadi cerminan sentimen investor terhadap kondisi ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.

Pada perdagangan Senin (28/9), IHSG ditutup turun 1,51 persen atau 94,03 poin ke level 6.147,86. Tekanan berlanjut pada perdagangan Selasa. Pada sesi I, IHSG masih tercatat melemah 0,21 persen ke level 6.135,48.

Pelemahan tersebut terjadi ketika pasar global juga menghadapi tekanan. Kenaikan imbal hasil US Treasury, penguatan dolar AS, harga minyak yang tinggi serta ketidakpastian geopolitik menjadi sejumlah sentimen yang diperhatikan investor. Bank Indonesia juga menyebut kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global dan risiko fiskal turut memengaruhi pergerakan rupiah.

IHSG Turun, Apa Artinya untuk Ekonomi Indonesia?

Pergerakan IHSG pada dasarnya menggambarkan perubahan harga saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Karena itu, ketika indeks mengalami tekanan, dampak paling langsung dirasakan oleh investor yang memiliki saham dan pelaku pasar modal.

Namun efeknya tidak berhenti di pasar saham. Jika tekanan pasar berlangsung lama, sentimen negatif dapat memengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan ekspansi, penghimpunan dana maupun investasi. Pergerakan pasar saham juga menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku ekonomi dalam membaca tingkat kepercayaan terhadap prospek perekonomian.

Dampaknya terhadap masyarakat umum tidak otomatis berarti harga kebutuhan sehari-hari langsung naik ketika IHSG turun.

Hubungannya lebih tidak langsung, melalui nilai tukar, biaya pendanaan, investasi, kondisi perusahaan, hingga daya beli.

Kondisi rupiah juga menjadi perhatian. Pada Selasa, rupiah sempat menyentuh sekitar Rp18.000 per dolar AS, sementara BI menyebut tekanan tersebut antara lain berkaitan dengan kekhawatiran inflasi global dan risiko fiskal.

Kenapa Investor Sedang Waspada?

Tekanan terhadap IHSG kali ini juga terjadi bersamaan dengan perubahan aturan perdagangan saham.

Mulai 28 September 2026, Bursa Efek Indonesia memberlakukan perubahan batas minimum harga saham dari Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan tersebut membuat sejumlah saham berharga Rp50 mengalami tekanan perdagangan.

Namun, BEI menegaskan saham-saham Rp50 bukan penyebab utama pelemahan IHSG. Kelompok tersebut memiliki bobot sekitar 1,91 persen terhadap IHSG dan kontribusinya terhadap penurunan indeks pada 28 September disebut sekitar 0,27 persen.

Dengan demikian, tekanan IHSG tidak tepat dibaca hanya sebagai dampak perubahan aturan saham.

Ada faktor global dan domestik yang berlangsung bersamaan.

Pada perdagangan 28 September, sembilan dari 11 sektor saham juga mengalami koreksi. Sektor teknologi menjadi yang terdalam dengan penurunan 4,46 persen, disusul sektor barang baku dan barang konsumen non-primer.

Bagi Indonesia, perkembangan IHSG selanjutnya menjadi penting karena pasar modal berkaitan dengan arus modal, pembiayaan perusahaan dan persepsi investor terhadap perekonomian.

Tetapi satu atau beberapa hari pelemahan IHSG belum dengan sendirinya berarti ekonomi Indonesia sedang mengalami krisis.

Yang lebih penting adalah melihat apakah tekanan tersebut berlangsung sementara atau menjadi tren berkepanjangan, serta bagaimana perkembangan rupiah, inflasi, investasi, konsumsi dan kinerja perusahaan dalam periode berikutnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *