KITAINDONESIASATU.COM – Pelatih Timnas U-16 putri Indonesia, Timo Scheunemann, menegaskan dirinya tidak tertarik mengejar posisi sebagai pelatih tim nasional senior. Di usia 52 tahun, Timo justru memilih tetap berada di balik layar untuk mencari, membentuk, dan mengorbitkan talenta-talenta muda sepak bola Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Timo setelah mendampingi Garuda Pertiwi di Srikandi Merdeka Cup 2026. Baginya, proses membina pemain dari usia muda memberikan kepuasan tersendiri dibandingkan menangani tim yang sudah berada di level senior.
Timo mengaku lebih nyaman menjadi gatekeeper atau penyaring awal bagi pemain-pemain muda berbakat yang belum banyak dikenal publik.
“Enggak ada tanggapan (soal melatih tim senior). Saya inginnya melatih yang muda jadi gatekeeper-lah. Karena itu enggak ada yang kenal pelatih U-17,” ujar Timo Scheunemann dalam konferensi pers, Minggu (24/8).
Ia masih membuka peluang menangani tim nasional U-20. Namun, setelah kelompok usia tersebut, Timo mengaku tidak ingin melanjutkan ke level yang lebih tinggi.
“Kalau U-20 masih mau sih, tapi di atas itu enggak mau. Karena saya maunya membina, menciptakan pemain,” katanya.
Timo menyebut dirinya telah lama menjalani peran tersebut. Ia mengatakan sejumlah pemain yang pernah dibinanya kemudian masuk ke tim nasional, baik putra maupun putri.
“Jiwa saya dan saya sudah lakukan seperti saya sudah pernah bilang, di depan layar ataupun di belakang layar, setiap generasi ada pemain saya yang di timnas cowok, ya sekarang cewek,” imbuhnya.
Menurut Timo, menangani tim kelompok usia memiliki tantangan tersendiri karena pemain masih berada dalam tahap pembentukan, baik dari sisi teknik maupun mental.
Selain kemampuan di lapangan, proses pencarian pemain juga membutuhkan objektivitas tinggi. Timo menilai seorang pelatih pembina harus mampu memilih pemain berdasarkan kemampuan tanpa dipengaruhi kepentingan lain.
“Karena kan kalau pencarian bakat itu dua hal penting, yaitu satu objektivitas, enggak ‘masuk angin’, sama kemampuan, gitu. Jadi enggak bisa diremehkan itu, enggak semua pelatih bisa,” tandasnya. (*)






