KITAINDONESIASATU.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengubah strategi menghadapi Iran dengan mengandalkan tekanan ekonomi.
Langkah tersebut muncul setelah upaya militer dan pendekatan diplomatik Washington belum berhasil mendorong Tehran menyerah atau kembali ke meja perundingan nuklir.
Trump menjanjikan operasi ekonomi terbesar yang pernah diterapkan terhadap sebuah negara.
Pemerintah AS juga berencana memperketat tekanan terhadap negara maupun perusahaan yang membantu Iran melalui transaksi keuangan, perdagangan minyak, dan berbagai jalur ekonomi lainnya.
Trump: Tekanan Ekonomi Hadapi Tantangan Besar
Strategi baru tersebut diperkirakan membutuhkan waktu panjang untuk memberikan dampak maksimal.
Iran telah menghadapi berbagai sanksi ekonomi selama puluhan tahun dan memiliki pengalaman membangun jaringan perdagangan untuk menghindari pembatasan internasional.
Tekanan terhadap sektor minyak menjadi salah satu pilihan utama Washington. Amerika Serikat dapat meningkatkan pengawasan terhadap perdagangan minyak Iran serta menekan negara lain yang membeli komoditas tersebut.
Namun, kebijakan semacam itu berpotensi menimbulkan persoalan diplomatik, terutama jika menyasar perusahaan atau lembaga keuangan dari negara besar seperti China.
Kondisi Selat Hormuz juga menjadi faktor penting. Jalur tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap lalu lintas kapal dapat meningkatkan harga minyak dan menciptakan tekanan ekonomi bagi negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Di sisi lain, Iran memiliki kepentingan untuk mempertahankan daya tawarnya dalam konflik. Eskalasi terhadap jalur perdagangan atau fasilitas terkait energi dapat meningkatkan biaya ekonomi bagi Washington, tetapi juga berisiko memperluas konflik.





