JAKARTA — Kajian mendalam mengenai Kitab Al-Hikam karya Syekh Ibn Ata’illah as-Sikandari kembali mengingatkan umat akan pentingnya meluruskan niat dalam beribadah. Hikmah ke-24 kitab tasawuf ini menegaskan bahwa kualitas hati jauh lebih utama dibandingkan kuantitas amalan fisik semata.
Dalam petikan hikmah tersebut dijelaskan: “Tidak ada amalan yang sedikit jika keluar dari hati yang zuhud, dan tidak ada amalan yang banyak jika muncul dari hati yang tamak.”
Para ulama menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti meninggalkan harta benda secara mutlak, melainkan melepaskan keterikatan dunia dari dalam hati. Amalan sederhana yang dilakukan dengan ikhlas, tanpa pamrih, serta bersih dari ambisi duniawi memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi di sisi Tuhan.
Sebaliknya, sebanyak apa pun ibadah yang tampak secara lahiriah akan kehilangan bobotnya apabila digerakkan oleh niat mencari pujian, kedudukan, atau keuntungan materi semata. Hikmah ini menjadi pengingat nyata bagi masyarakat modern agar tidak terjebak dalam sekadar formalitas ibadah.
Melalui pesan ke-24 ini, umat diajak menata kembali prioritas spiritual. Kesucian niat dan pembersihan hati dari keserakahan duniawi adalah kunci utama agar setiap amal bernilai abadi.(*)




