KITAINDONESIASATU.COM – Tragedi kemanusiaan mengguncang perbatasan Spanyol-Maroko setelah jumlah migran yang tewas saat berusaha memasuki wilayah kantong Spanyol di Ceuta, Afrika Utara, dilaporkan mencapai 90 orang. Informasi tersebut disampaikan media Cadena Ser pada Minggu (2/8) dengan mengutip sejumlah sumber resmi.
Menurut laporan, aparat keamanan Spanyol telah menemukan 74 jenazah, sementara otoritas Maroko menemukan 16 korban jiwa lainnya. Total korban tewas itu menjadi salah satu yang terbesar dalam krisis migrasi terbaru di kawasan tersebut.
Gelombang migran dalam jumlah masif menghantam Ceuta pada akhir Juli. Presiden-Wali Kota Ceuta, Juan Jesus Vivas, mengungkapkan bahwa sekitar 60.000 orang memasuki wilayah tersebut dari Maroko hanya dalam kurun waktu satu hari, memicu situasi darurat di perbatasan.
Membludaknya arus migran juga memicu kerusuhan di sejumlah titik. Pemerintah Spanyol langsung mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, hingga pasukan militer untuk mengendalikan kondisi yang semakin tidak terkendali.
Ceuta merupakan wilayah kantong milik Spanyol yang berada di pesisir utara Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, kawasan ini menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Afrika dan Uni Eropa, sekaligus dikenal sebagai salah satu jalur utama migrasi ilegal menuju kawasan Eropa.
Peristiwa ini kembali menyoroti besarnya tekanan migrasi di perbatasan Eropa serta risiko mematikan yang dihadapi ribuan orang yang nekat menempuh jalur ilegal demi mencapai wilayah Uni Eropa. (Sumber: Sputnik)





