KITAINDONESIASATU.COM- Dugaan kasus penipuan yang viral beberapa waktu terakhir dengan modus meminta tumpangan menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama perlu diimbangi dengan kewaspadaan.
Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University, Agung Minto Wahyu, SM, SPsi, MSi, menegaskan bahwa keputusan untuk menolong seseorang sebaiknya didasarkan pada empati sekaligus mempertimbangkan risiko yang mungkin dihadapi.
“Dalam situasi yang membangkitkan rasa iba, penilaian terhadap risiko dapat menjadi kurang optimal, terutama ketika keputusan harus diambil secara cepat dan informasi mengenai orang yang ditolong sangat terbatas,” ujarnya, Sabtu 1 Agustus 2026.
Menurutnya, permintaan bantuan yang disampaikan secara langsung sering kali memunculkan tekanan psikologis. Seseorang bisa merasa sungkan menolak, khawatir dianggap tidak peduli, atau merasa bersalah jika tidak membantu. Akibatnya, keputusan lebih banyak dipengaruhi dorongan emosional dibandingkan pertimbangan yang matang.
“Empati bukanlah sesuatu yang keliru atau perlu dihindari. Persoalannya muncul ketika empati tidak disertai dengan kewaspadaan dan penilaian risiko yang memadai,” katanya.
Empati yang Sehat Tidak Selalu Berarti Mengabulkan Semua Permintaan
Agung menjelaskan bahwa empati yang sehat tidak selalu diwujudkan dengan memenuhi setiap permintaan bantuan. Seseorang tetap dapat menunjukkan kepedulian tanpa mengabaikan keselamatan diri maupun kemampuan menilai situasi secara rasional.
Memahami Perbedaan Empathic Concern dan Personal Distress
Ia membedakan dua bentuk respons empatik, yakni empathic concern dan personal distress.
“Empati yang sehat lebih mencerminkan empathic concern, yaitu kepedulian yang tetap disertai kemampuan mengelola emosi, menilai risiko, dan menetapkan batas pertolongan,” jelasnya.
Sebaliknya, personal distress membuat seseorang terburu-buru membantu hanya untuk mengurangi rasa bersalah atau ketidaknyamanan emosional yang dirasakan.
Agung juga mengingatkan agar masyarakat tidak menilai seseorang hanya dari penampilan, usia, jenis kelamin, maupun cara berpakaian.
“Kewaspadaan sebaiknya tidak didasarkan pada penampilan seseorang karena hal tersebut tidak dapat menunjukkan apakah seseorang memiliki niat baik atau buruk. Yang lebih penting adalah memperhatikan tingkat ketidakpastian situasi,” ujarnya.
Pastikan Tiga Hal Sebelum Memberikan Tumpangan
Sebelum memutuskan memberikan bantuan berupa tumpangan, Agung menyarankan masyarakat memastikan tiga hal secara jelas, yaitu:
- Identitas orang yang meminta bantuan.
- Alasan meminta bantuan.
- Tujuan perjalanan.
Verifikasi Identitas untuk Mengurangi Risiko
Selain itu, penting mempertimbangkan apakah terdapat hubungan sosial, komunitas, atau institusi yang dapat menjadi rujukan sehingga identitas orang tersebut lebih mudah diverifikasi. Masyarakat juga perlu memastikan tersedia informasi yang memungkinkan orang tersebut dikenali atau ditelusuri.
Menurutnya, apabila informasi yang dapat diverifikasi sangat terbatas, maka tingkat ketidakpastian menjadi tinggi sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan.
“Yang perlu diwaspadai bukanlah seperti apa orang yang meminta tumpangan, melainkan seberapa banyak informasi penting yang belum diketahui dan tidak dapat diverifikasi. Semakin tinggi ketidakpastian, semakin kuat alasan untuk meningkatkan kewaspadaan atau bahkan menolak memberikan tumpangan,” tegasnya.
Opsi Bantuan yang Lebih Aman Tetap Bisa Dilakukan
Agung menambahkan, membantu seseorang tidak selalu harus dalam bentuk yang diminta. Dalam situasi yang belum jelas, masyarakat tetap dapat memberikan bantuan yang lebih aman.
Pilihan Bantuan yang Lebih Aman
Beberapa bentuk bantuan yang dapat diberikan antara lain:
- Membantu menghubungi keluarga.
- Memesankan transportasi resmi.
- Mengarahkan kepada petugas keamanan.
- Menunggu bersama di tempat ramai hingga bantuan lain tersedia.
Apabila tetap memutuskan memberikan tumpangan, ia menyarankan agar identitas penumpang dan tujuan perjalanan dipastikan terlebih dahulu. Selain itu, penting memberi tahu keluarga atau orang terdekat, membagikan live location, serta memilih rute yang ramai dan mudah diakses.
“Keputusan menolong perlu mempertimbangkan kebutuhan orang yang meminta bantuan sekaligus risiko yang harus ditanggung penolong. Kepedulian tetap dapat diwujudkan tanpa mengabaikan keselamatan diri, karena inti dari membantu bukanlah keberanian mengambil risiko, melainkan kemampuan memilih bentuk pertolongan yang tepat, proporsional, dan aman,” pungkasnya.





