KITAINDONESIASATU.COM – Unggahan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, tentang kebiasaannya tidur hanya nol hingga tiga jam semalam memicu polemik. Pernyataan itu memantik diskusi soal kurang tidur dan budaya kerja ekstrem di kalangan pejabat tinggi.
Sejak menjabat pada Oktober 2025, Takaichi mengaku nyaris tak pernah tidur cukup karena tumpukan tugas. Ia menyebut waktu istirahatnya habis untuk membaca dokumen, membalas surel, dan mengambil keputusan penting negara.
Unggahan itu viral dan menuai reaksi beragam. Sebagian netizen memuji dedikasinya, tapi banyak juga yang mengkritik PM Jepang kurang tidur karena bisa membahayakan kesehatan dan kualitas pengambilan keputusan.
Fenomena ini kembali menyoroti budaya kerja berlebihan di Jepang. Istilah karoshi, atau kematian akibat kerja berlebihan, masih menjadi bayang-bayang bagi banyak pekerja di negeri itu.
Dampak kurang tidur pada tubuh sebenarnya sudah banyak diteliti. Para ahli memperingatkan bahwa tidur hanya tiga jam semalam bisa mengganggu hampir semua fungsi tubuh, mulai dari konsentrasi hingga sistem kekebalan.
Efek jangka pendek meliputi penurunan daya ingat, waktu reaksi melambat, dan kesulitan berpikir jernih. Studi menunjukkan kinerja kognitif orang yang kurang tidur bisa setara dengan kondisi setelah minum alkohol.
Dalam jangka panjang, dampak kurang tidur kronis terkait dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, depresi, dan melemahnya sistem imun. Kondisi ini bisa menumpuk dan muncul bertahun-tahun kemudian.





