KITAINDONESIASATU.COM- Di tengah meningkatnya tekanan hidup masyarakat perkotaan dan ancaman triple planetary crisis yang meliputi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta pencemaran lingkungan, hutan dinilai memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding sekadar kawasan hijau. Guru Besar IPB University, Prof Siti Badriyah Rushayati, menyebut hutan tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon dan penjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kesehatan manusia melalui konsep healing forest atau terapi hutan.
Healing Forest Bantu Tingkatkan Imunitas dan Kesehatan Mental
Menurut Prof Siti, jasa lingkungan hutan tidak hanya berperan menjaga ketahanan iklim dan ekosistem, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kesehatan fisik maupun mental. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa paparan lingkungan hutan mampu meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker, sekaligus membantu menurunkan tingkat stres.
“Paparan udara hutan dapat meningkatkan aktivitas natural killer cells yang berperan melawan infeksi dan sel kanker. Selain itu, terapi hutan juga terbukti mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesehatan mental,” ungkapnya saat Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Minggu 28 Juni 2026.
Manfaat tersebut berasal dari phytoncide, yaitu senyawa volatil alami yang dihasilkan tumbuhan sebagai mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme, serangga, maupun tekanan lingkungan. Senyawa ini memiliki sifat antioksidan yang mampu melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas serta membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental.
“Phytoncide memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Paparan senyawa ini secara teratur juga dapat membantu menurunkan tekanan darah, mengurangi stres, dan meningkatkan kesejahteraan mental,” jelasnya.
Healing Forest Harus Memenuhi Standar Khusus
Prof Siti menegaskan bahwa healing forest tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Lokasi terapi harus memiliki tingkat kebisingan yang rendah, kualitas udara yang baik, medan yang aman, serta suasana yang mampu menghadirkan ketenangan sehingga seluruh pancaindra dapat menyatu dengan alam.
“Dalam healing forest, seluruh panca indera harus dapat menyatu dengan alam. Jika tingkat kebisingan terlalu tinggi, proses relaksasi tidak akan berjalan optimal,” katanya.
Selain bermanfaat bagi kesehatan, healing forest juga memiliki potensi ekonomi melalui pengembangan wisata berbasis jasa lingkungan. Salah satu penerapannya telah dilakukan di Taman Hutan Raya Ir H Djuanda dengan menghadirkan paket wisata healing forest lengkap dengan jalur khusus, aktivitas terapi alam, dan pendampingan pemandu terlatih.
“Ini bisa menjadi sumber ekonomi baru sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga hutan,” ujarnya.
Pendekatan Menyeluruh Hadapi Triple Planetary Crisis
Prof Siti menegaskan bahwa menghadapi triple planetary crisis memerlukan pendekatan berbasis lanskap melalui konservasi dan restorasi ekosistem, pembangunan hutan kota, peningkatan penyerapan polutan oleh vegetasi, pemanfaatan teknologi, serta pelibatan seluruh pemangku kepentingan.
“Ketahanan iklim, ketahanan ekosistem, dan kesehatan masyarakat hanya dapat tercapai apabila pembangunan berjalan selaras dengan fungsi jasa lingkungan hutan,” pungkasnya.
