KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar Rupiah Indonesia kembali mencatatkan sejarah kelam pada Senin pagi (8/6/2026) setelah menembus rekor terendah Rupiah di angka fantastis 18.150 per Dolar AS.
Pelemahan ini langsung menjadi trending global di media sosial X, memicu kepanikan luas di kalangan investor dan masyarakat.
Dampak dari rekor terendah Rupiah ini langsung merembet ke pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Jakarta anjlok lebih dari 4% ke level 5.372, menambah penurunan mingguan yang sudah menyentuh angka 8%.
Fenomena Rupiah Indonesia yang terus melemah ini menjadikannya mata uang dengan performa terburuk di Asia tahun ini, dengan depresiasi lebih dari 11% year-to-date.
Berbagai faktor eksternal dan internal menjadi penyebab Rupiah anjlok secara drastis. Lonjakan harga minyak akibat ketegangan geopolitik AS-Israel-Iran memberikan tekanan berat pada neraca perdagangan.
Selain itu, penguatan Dolar AS secara global serta kekhawatiran domestik terkait ekspansi fiskal di bawah Presiden Prabowo Subianto semakin memperparah rekor terendah Rupiah yang terjadi pagi ini.
Merespons penyebab Rupiah anjlok yang semakin tak terbendung, Bank Indonesia (BI) telah bertindak agresif. BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25% dan melakukan intervensi pasar yang sangat berat.
Langkah heroik ini sayangnya harus ditebus dengan terkikisnya cadangan devisa yang kini tercatat menyusut ke level $144,9 miliar demi menopang Rupiah Indonesia.


