Kehancuran Rupiah Indonesia ini tidak luput dari sorotan tajam media finansial global di X.
Akun @spectatorindex dan @zerohedge secara langsung memberitakan rekor terendah Rupiah yang menyentuh 18.150, sementara akun @infraa_ menuliskan keluhan pedas bahwa “Rupiah terus meleleh”.
Sentimen negatif ini semakin mengukuhkan narasi penyebab Rupiah anjlok yang didorong oleh hilangnya kepercayaan pasar.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan pada kuartal II 2026, pelemahan Rupiah Indonesia di atas 18.000 ini secara langsung meningkatkan risiko inflasi impor, khususnya pada sektor energi dan pangan.
Para pemimpin politik kini tengah menandai bahaya inflasi ini, sementara masyarakat hanya bisa pasrah menyaksikan penyebab Rupiah anjlok yang belum juga menemukan titik terang penyelesaiannya.
Ke depan, stabilitas Rupiah Indonesia akan sangat bergantung pada meredanya ketegangan di Timur Tengah dan keyakinan pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah.
Jika Dolar AS terus menguat dan penyebab Rupiah anjlok tidak segera diatasi, bukan tidak mungkin rekor terendah Rupiah akan terus berlanjut dan menggerus daya beli masyarakat secara masif.***


