KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah Indonesia mulai menjajaki kerja sama perdagangan dengan Filipina melalui skema barter di tengah tekanan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Langkah ini disiapkan sebagai alternatif transaksi perdagangan bilateral agar aktivitas ekspor dan impor tetap berjalan stabil tanpa terlalu bergantung pada valuta asing.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pembahasan kerja sama barter tersebut sudah memasuki tahap lanjutan dan ditargetkan mencapai kesepakatan pada pertengahan Juni 2026.
Menurutnya, opsi barter menjadi solusi strategis di tengah kondisi ekonomi global yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Rencana tersebut muncul setelah pertemuan antara pemerintah Indonesia dengan pengusaha Filipina dalam forum ASEAN Joint Foreign and Economic Ministers di Cebu beberapa waktu lalu.
Dalam pertemuan itu, pihak Filipina mengusulkan penggunaan mekanisme barter untuk mempermudah transaksi perdagangan antarnegara.
Barter Dinilai Kurangi Ketergantungan Rupiah Terhadap Dolar AS
Pemerintah menilai skema barter dapat membantu mengurangi ketergantungan pada dolar AS yang saat ini terus menekan nilai tukar rupiah maupun mata uang Filipina.
Dengan sistem tersebut, kedua negara dapat melakukan pertukaran komoditas secara langsung tanpa harus menggunakan pembayaran berbasis dolar.
Kementerian Perdagangan juga telah menemukan buyer atau mitra dagang yang akan terlibat dalam kerja sama tersebut. Penandatanganan kontrak direncanakan berlangsung pada 12 Juni 2026.

