Desa KitaNews

Kelurahan Sukaresmi Andalkan Kolaborasi dan Program Sosial di Tengah Keterbatasan Aparatur

×

Kelurahan Sukaresmi Andalkan Kolaborasi dan Program Sosial di Tengah Keterbatasan Aparatur

Sebarkan artikel ini
IMG20260521145246 scaled
Lurah Yayan Hariansyah saat memberikan keterangan kepada awak media terkait potensi wilayah, pelayanan publik, hingga tantangan keterbatasan SDM di Kelurahan Sukaresmi. (KIS)

KITAINDONESIASATU.COM- Kelurahan Sukaresmi terus melakukan pembenahan wilayah dan penguatan pelayanan publik pasca diresmikannya gedung kantor baru oleh Dedie A. Rachim pada akhir tahun lalu.

Berbagai langkah strategis, potensi wilayah, hingga tantangan operasional pemerintahan dipaparkan langsung oleh Lurah Sukaresmi, Yayan Hariansyah, dalam pertemuan yang digelar Kamis 21 Mei 2026.

Kelurahan dengan luas sekitar 98 hektare tersebut memiliki posisi geografis strategis karena berbatasan langsung dengan wilayah Cilebut Timur dan Cilebut Barat, Kabupaten Bogor, serta menjadi jalur penghubung menuju Kelurahan Kedung Halang, Bogor Utara.

Menurut Yayan Hariansyah, secara historis wilayah Sukaresmi merupakan bagian dari dinamika pemekaran antara Kabupaten Bogor dan Kota Bogor pada medio 2001–2002. Saat ini, wilayah tersebut dihuni penduduk yang tersebar di delapan Rukun Warga (RW).

“Sukaresmi ini bukan wilayah yang didominasi oleh sektor industri besar atau jasa komersial masif seperti kelurahan lain di Tanah Sareal. Karakteristik wilayah kami lebih condong pada pemukiman dan pelestarian lingkungan,” ujar Yayan Hariansyah

Ia juga menegaskan pentingnya peran media massa sebagai mitra strategis pemerintah dalam menyampaikan informasi publik secara akurat dan berimbang kepada masyarakat.

“Media itu adalah bagian tidak terpisahkan dari kami, tentunya sangat dibutuhkan. Karena secara informasi, untuk bisa sampai ke publik itu membutuhkan konfirmasi yang berimbang, agar informasi publik bisa terbangun dengan baik,” kata Yayan.

Dalam tiga tahun terakhir, Kelurahan Sukaresmi aktif membangun kolaborasi internal dan eksternal untuk meningkatkan sosialisasi sektor pendidikan, kebudayaan, serta mitigasi bencana berbasis digital guna mendukung transformasi sistem pelayanan dan perencanaan wilayah.

Meski tidak memiliki kawasan industri, Sukaresmi dinilai memiliki potensi besar pada sektor ruang terbuka hijau (RTH) dan pengembangan fasilitas publik. Pemerintah Kota Bogor pun terus melakukan penataan kawasan secara bertahap untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dua aset lingkungan strategis yang saat ini menjadi andalan wilayah tersebut antara lain Taman Lingkungan Graha Grande sebagai pusat aktivitas warga dan olahraga, serta Ekoriparian Sukaresmi yang dikembangkan di koridor Sungai Ciliwung sebagai kawasan wisata alam terbuka berbasis edukasi lingkungan dan rekreasi keluarga.

“Kami terus mendorong kolaborasi, termasuk dengan Kementerian Pertanian dan instansi terkait, untuk menjaga kelestarian koridor sungai agar berdaya guna bagi warga,” jelasnya.

Di sisi lain, Kelurahan Sukaresmi masih menghadapi tantangan klasik dalam operasional pemerintahan, terutama keterbatasan sumber daya manusia (SDM) aparatur sipil. Minimnya jumlah staf membuat sejumlah pegawai harus menjalankan tugas ganda untuk mendukung berbagai kegiatan teknis dan pelayanan masyarakat.

Kondisi tersebut semakin menantang karena wilayah Sukaresmi dilintasi aliran sungai yang membuat sejumlah titik rawan terhadap potensi bencana alam.

“Kekuatan personel serta kebijakan operasional bisa dikatakan kurang karena ada beberapa karyawan yang memegang beberapa kegiatan sekaligus. Salah satunya terkait pelayanan administrasi penanganan bencana, di mana kita dituntut siaga menurunkan personel Linmas antara 10 sampai 12 orang saat terjadi peristiwa,” ungkap Yayan.

Selain fokus pada pelayanan administrasi dan penanganan bencana, pihak kelurahan juga menjalankan fungsi mediasi terkait rencana tata ruang hingga penyelesaian konflik eksternal, seperti sengketa tanah dan dinamika kepengurusan lingkungan di sejumlah klaster perumahan.

Sebagai bentuk komitmen sosial kemasyarakatan, Kelurahan Sukaresmi turut mengembangkan program kemitraan berbasis swadaya yang tidak mengikat. Salah satu program unggulannya ialah penyaluran santunan rutin kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa setiap bulan.

“Kami mencatat ada sekitar 137 anak yatim piatu dan dhuafa di wilayah Sukaresmi. Melalui program swadaya ini, kami berupaya memberikan santunan rutin setiap bulan guna membantu pemenuhan kebutuhan dasar dan sekolah mereka,” tutup Yayan.

Ke depan, penataan prasarana serta peningkatan tata kelola pelayanan publik di Kelurahan Sukaresmi diharapkan dapat menjadi fondasi penting dalam mendukung pelayanan prima kepada masyarakat, seiring adanya wacana kajian penataan wilayah dan potensi pemekaran di Kecamatan Tanah Sareal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *