Opini Kita

Peran dan Peluang Third Place (Cafe dan Working Space) dalam Mewujudkan Ekosistem Pariwisata Kota – Kota di Indonesia

×

Peran dan Peluang Third Place (Cafe dan Working Space) dalam Mewujudkan Ekosistem Pariwisata Kota – Kota di Indonesia

Sebarkan artikel ini
third place
Peran third place seperti cafe dan coworking space dalam ekosistem pariwisata kota Indonesia, mendorong interaksi, kreativitas, dan ekonomi lokal. (Unsplash.com/Michael Effendy)

KITAINDONESIASATU.COM Keberadaan third place memiliki peran sentral dan peluang strategis dalam mentransformasi ekosistem pariwisata kota, bergeser dari model pariwisata massal tradisional menuju pariwisata kreatif.

Dalam ekosistem ini, third place tidak lagi sekadar menjadi fasilitas pendukung, melainkan menjadi atraksi utama yang mendefinisikan pengalaman wisata.

Berikut adalah identifikasi peran dan peluang third place dalam mewujudkan ekosistem pariwisata kota:

Peran Third Place dalam Ekosistem Pariwisata Kota

Third place berfungsi sebagai “ruang heterogen” yang menyediakan pengalaman tidak terencana bagi wisatawan yang mencari alternatif dari ruang wisata formal. Di tempat-tempat seperti distrik kreatif, kafe independen, atau makerspace, wisatawan tidak hanya menjadi konsumen pasif, melainkan bertindak sebagai “placemakers yang berkolaborasi dengan penduduk lokal. Interaksi ini memfasilitasi ko-kreasi pengetahuan dan pengalaman antara wisatawan dan tuan rumah, yang menjadi fondasi utama dari pariwisata kreatif.

Dalam konteks pariwisata pada Distrik Kreatif Kultural, third place memainkan peran psikologis yang krusial melalui pembentukan place attachment.

Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktivitas dan ikatan sosial di third place adalah prediktor terkuat bagi loyalitas pengunjung.

Berbeda dengan wisata alam, daya tarik utama third place perkotaan terletak pada interaksi sosial berkualitas tinggi.

Wisatawan akan terus kembali jika sebuah tempat, seperti kafe seni atau galeri, dirancang dengan baik untuk memfasilitasi perjumpaan sosial yang ramah dan memunculkan perasaan memiliki.

Banyak third place pariwisata lahir dari inisiatif regenerasi urban yang menggunakan kembali bangunan industri atau bersejarah yang terbengkalai. Contohnya adalah Redtory Art & Design Factory di Guangzhou yang diubah menjadi ruang pameran dan lokakarya, atau Hin Bus Depot di George Town, Malaysia, yang diubah menjadi pusat seni komunal dan pasar pop-up akhir pekan. Peran ini menghidupkan kembali “urat nadi” kawasan yang mati menjadi jangkar ekosistem wisata lokal.

Peluang Third Place untuk Pengembangan Pariwisata Kota

Third place menawarkan peluang besar untuk membedakan identitas sebuah kota di tengah persaingan pasar pariwisata global yang semakin seragam.

Melalui praktik neo lokalisme seperti yang terlihat pada industri craft brewery atau kafe spesialis lokal third place secara sadar merayakan sejarah, nama tempat, dan budaya lokal untuk menciptakan pengalaman konsumsi yang otentik.

Hal ini menambah “keunggulan simbolis” pada branding kota, membuat destinasi tersebut sulit ditiru oleh kota lain.

Third place memberikan peluang untuk menciptakan ruang hibrida di mana wisatawan dan penduduk lokal membaur tanpa batas yang kaku. Contoh suksesnya adalah Nguyen Van Binh Book Street di Vietnam, yang berfungsi sebagai toko buku, area pameran, taman saku, sekaligus panggung acara. Tipologi ruang yang saling bersilangan ini menghilangkan zonasi pariwisata eksklusif, memungkinkan pertemuan spontan lintas kelas sosial dan demografi, sehingga memberikan pengalaman wisata kultural yang lebih inklusif dan otentik,.

Sebagai simpul jaringan kreatif, third place berpeluang menghubungkan berbagai industri kreatif seperti film, mode, musik, dan desain dengan pariwisata.

Kehadiran ruang-ruang informal ini di luar pusat wisata utama dapat mendistribusikan lalu lintas wisatawan ke area pinggiran atau lingkungan kelas pekerja. Ini menciptakan peluang ekonomi baru bagi usaha mikro dan seniman lokal yang sering kali tidak tersentuh oleh keuntungan pariwisata massal.

Tantangan Kritis

Meskipun peluangnya besar, integrasi third place ke dalam ekosistem pariwisata harus dikelola dengan hati-hati untuk menghindari touristification” atau komodifikasi budaya yang berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *