Seperti yang terjadi di George Town pasca-status UNESCO, transformasi shophouses bersejarah menjadi hotel butik dan kafe hipster eksklusif justru mengusir kopitiam tradisional dan penduduk asli.
Pariwisata kreatif seringkali memicu gentrifikasi yang dapat menghilangkan “jiwa” dan otentisitas third place itu sendiri jika tidak diimbangi dengan perlindungan terhadap komunitas pekerja dan seniman lokal.
Kesimpulannya, dalam ekosistem pariwisata kota, third place adalah infrastruktur sosial yang mengubah turis dari sekadar “pengamat” menjadi “partisipan aktif”.
Ruang ini menawarkan peluang bagi kota untuk menjual “pengalaman hidup” dan otentisitas sosial, selama pengelolaannya tetap inklusif dan tidak mengorbankan kenyamanan warga lokal. (*)


