KITAINDONESIASATU.COM – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus berbahaya yang ditularkan melalui tikus, yakni hantavirus, yang dinilai bisa muncul di lingkungan dengan sanitasi buruk hingga kawasan banjir.
Pelaksana Tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menegaskan bahwa kebersihan lingkungan menjadi benteng utama untuk mencegah munculnya kasus infeksi yang berawal dari hewan pengerat tersebut.
“Harus benar-benar sadar terhadap sumber penularan hantavirus. Tikus jangan sampai berkeliaran karena sangat berkaitan dengan kebersihan lingkungan,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (11/5).
Pernyataan itu langsung menyita perhatian karena pemerintah menyoroti meningkatnya risiko di wilayah rawan banjir, yang disebut sebagai area paling rentan terhadap penyebaran penyakit akibat kontaminasi dari tikus.
Menurut Andi, genangan air dan kondisi lingkungan yang kotor dapat memperbesar potensi penyebaran berbagai penyakit, termasuk hantavirus dan leptospirosis yang sama-sama berasal dari hewan pengerat.
“Ketika banjir, jangan dianggap seperti kolam renang. Itu justru berisiko tinggi terhadap penyakit menular,” tegasnya.
Peringatan ini muncul di tengah laporan global terkait kasus infeksi di kapal pesiar MV Hondius, yang sempat memicu kekhawatiran setelah ditemukan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan tingkat kematian tinggi.
Meski begitu, Kemenkes memastikan bahwa situasi di Indonesia masih relatif aman. Hingga saat ini, belum pernah tercatat kasus penularan HPS dari tikus ke manusia di dalam negeri.
Indonesia hanya pernah melaporkan kasus terbatas Hantavirus jenis lain sejak 1991, dan sejauh ini belum ditemukan lonjakan kasus yang signifikan.
Namun pemerintah tetap meminta masyarakat tidak lengah, terutama di wilayah padat penduduk dan daerah rawan banjir, karena risiko kesehatan lingkungan dinilai bisa meningkat sewaktu-waktu jika tidak dijaga dengan baik. (*)
