KITAINDONESIASATU.COM – Nilai tukar rupiah diperkirakan kembali mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin 11 Mei 2026.
Mata uang rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar Amerika Serikat seiring penguatan indeks dolar AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Tekanan terhadap rupiah dipicu situasi memanas antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memunculkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas distribusi energi dunia.
Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dan gas internasional disebut menjadi perhatian utama pelaku pasar global.
Kondisi tersebut membuat investor cenderung memilih aset aman, termasuk dolar AS.
Sentimen Global dan Domestik Jadi Sorotan Rupiah
Selain konflik geopolitik, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve juga memengaruhi pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Sejumlah pejabat The Fed masih memberikan sinyal suku bunga tinggi akan dipertahankan lebih lama guna menekan inflasi.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada posisi utang pemerintah yang mencapai Rp9.920 triliun hingga akhir Maret 2026.
