News

Menag Ingatkan Diaspora Indonesia Jaga Ukhuwah dan Warisan Budaya

×

Menag Ingatkan Diaspora Indonesia Jaga Ukhuwah dan Warisan Budaya

Sebarkan artikel ini
menga
Menag Nasaruddin Umar. (Dok. Kemenag)

KITAINDONESIASATU.COM – Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar membuat suasana Halal Bihalal Masyarakat Buton se-Jabodetabek di Jakarta mendadak penuh haru sekaligus menggugah kesadaran sejarah. Dalam pidato panjangnya di Gedung Graha Garda Dirgantara, Jumat (9/5), menag mengingatkan publik bahwa Buton bukan daerah biasa, melainkan salah satu pusat peradaban Islam tertua di Nusantara yang kerap terlupakan.

Menag menegaskan, bahwa Kesultanan Buton telah memainkan peran besar dalam penyebaran Islam jauh sebelum agama tersebut berkembang pesat di Pulau Jawa. Menurutnya, sejarah panjang Buton adalah warisan besar yang tak boleh dihapus oleh zaman.

“Masyarakat Buton memiliki perjalanan sejarah yang sangat panjang. Ini bukan sesuatu yang boleh kita lupakan,” ujar Nasaruddin di hadapan ratusan warga diaspora Buton.

Pidato menag kemudian berubah makin menyentuh ketika ia membahas makna halal bihalal yang selama ini dianggap sekadar tradisi musiman setelah Lebaran. Nasaruddin menilai banyak orang salah memahami esensi halal bihalal yang sesungguhnya.

“Halal bihalal jangan hanya dikaitkan dengan Idul Fitri. Sejatinya, halal bihalal erat kaitannya dengan kasih sayang,” katanya.

Menurutnya, halal bihalal bukan hanya ritual saling berjabat tangan dan meminta maaf, tetapi spirit persaudaraan sejati yang harus hidup sepanjang waktu, terutama bagi masyarakat Buton yang tersebar di berbagai daerah.

Di tengah suasana hangat itu, Nasaruddin juga melontarkan peringatan keras soal ancaman perpecahan akibat kepentingan politik. Ia meminta masyarakat Buton tidak mudah diadu domba oleh isu suku, daerah, maupun pilihan politik.

“Jangan mudah terpecah belah oleh kepentingan politik. Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai perbedaan itu merobek persaudaraan,” pesannya tegas.

Menag menilai budaya Buton sesungguhnya sudah mengandung nilai-nilai luhur yang sejalan dengan semangat Pancasila, seperti gotong royong, persaudaraan, dan saling menguatkan.

Tak hanya bicara persatuan, Nasaruddin juga mengingatkan generasi muda diaspora Buton agar tidak melupakan akar budaya di tengah derasnya arus modernisasi dan kehidupan kota besar.

“Jaga budaya asli Buton. Jangan biarkan nilai-nilai luhur yang diwariskan leluhur terkikis pengaruh luar,” katanya. Acara halal bihalal tersebut juga menjadi bukti kuatnya solidaritas masyarakat Buton di perantauan.

Dari kegiatan itu, diaspora Buton se-Jabodetabek berhasil menghimpun dana swadaya hingga Rp180 juta tanpa bergantung pada bantuan pihak luar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *