KITAINDONESIASATU.COM – Harga emas global diproyeksikan kembali menguat setelah mengalami koreksi tajam pada Maret 2026.
World Gold Council menilai penurunan sebesar 12 persen menjadi sekitar 4.608 dolar AS per troy ons merupakan fase penyesuaian yang jarang terjadi dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Koreksi tersebut dipicu oleh aksi jual besar-besaran dari investor, terutama akibat tingginya eksposur di pasar serta kebutuhan likuiditas yang meningkat.
Selain itu, arus keluar dari instrumen ETF emas global turut memperdalam tekanan harga dalam jangka pendek.
Faktor Pemulihan dan Risiko Harga Emas
Memasuki April 2026, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Melemahnya penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang mengurangi tekanan terhadap emas.
Di sisi lain, arus masuk ETF kembali menunjukkan tren positif di berbagai wilayah, menandakan minat investor mulai pulih.
Permintaan lindung nilai juga tetap tinggi, baik dari sektor ritel maupun manajemen kekayaan. Stabilitas harga yang mulai terbentuk mendorong kembali minat terhadap emas fisik sebagai aset aman.
Namun demikian, risiko global masih membayangi. Ketegangan geopolitik dan potensi lonjakan harga minyak dapat memicu tekanan likuiditas di berbagai aset.
Kondisi ini membuat pergerakan emas dalam jangka pendek masih sangat sensitif terhadap dinamika pasar global, meski secara fundamental prospeknya tetap positif.(*)


