KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah memastikan penentuan awal Ramadan 1447 Hijriah tetap melalui sidang isbat. Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, menegaskan mekanisme tersebut masih menjadi rujukan resmi negara dalam menetapkan kapan umat Islam mulai berpuasa.
Mengutip laman resmi Kemenag, Selasa (17/2), Menag menjelaskan sejak dulu Indonesia selalu memakai sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan dan Idul Fitri. Ia mengakui dalam dua tahun terakhir muncul perbedaan penetapan di tengah masyarakat, namun Kementerian Agama berupaya menjadi jembatan agar umat tetap bersatu.
Menurutnya, perbedaan metode antara organisasi Islam merupakan bagian dari khazanah fikih. Ada yang mengutamakan hisab, ada pula yang menekankan rukyat. Pemerintah sendiri harus melakukan konfirmasi langsung melalui pemantauan hilal sebelum diputuskan dalam sidang isbat.
Tahun ini, pengamatan hilal dilakukan di 96 titik di seluruh Indonesia sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah dan syar’i.
Menag juga mengingatkan Indonesia memakai standar visibilitas hilal yang disepakati negara anggota MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura). Kriterianya, hilal minimal setinggi 3 derajat di atas ufuk dan memiliki elongasi 6,4 derajat.
Berdasarkan perhitungan astronomi sementara, posisi hilal saat matahari terbenam masih berada di bawah kriteria tersebut sehingga peluang terlihat sangat kecil. Selain itu, faktor cuaca seperti mendung juga bisa menjadi penghambat.
Meski ada kemungkinan perbedaan awal puasa, Menag mengajak masyarakat tidak memperdebatkannya. Ia menilai Indonesia sudah berpengalaman menjaga kerukunan meski pernah berbeda penentuan 1 Ramadan.
Menag berharap umat lebih mengedepankan persatuan dan menerima keputusan dengan bijak. Untuk saat ini, pemerintah tetap berpegang pada kesepakatan MABIMS sambil mengikuti perkembangan wacana kalender Hijriah global. (*)


