News

Iran Bergejolak, Opsi Serangan AS Mulai Dipertimbangkan

×

Iran Bergejolak, Opsi Serangan AS Mulai Dipertimbangkan

Sebarkan artikel ini
Trump
Presiden AS, Donald Trump.(ist)

KITAINDONESIASATU.COM – Situasi Iran kian memanas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan telah menerima paparan langsung mengenai berbagai opsi serangan terhadap Iran, di tengah gelombang demonstrasi besar-besaran yang mengguncang negara tersebut.

Mengutip keterangan sejumlah pejabat senior AS, The New York Times (NYT) melaporkan bahwa Trump saat ini tengah mempertimbangkan secara serius skenario serangan tersebut. Meski demikian, hingga kini belum ada keputusan final yang diambil Gedung Putih.

Menurut laporan RIA Novosti dari Moskow pada Minggu (11/1), NYT menyebutkan bahwa opsi serangan yang disodorkan tidak terbatas pada target militer. Beberapa skenario bahkan mencakup serangan terhadap target non-militer di Teheran, ibu kota Iran, sebuah langkah yang dinilai berisiko tinggi dan berpotensi memicu eskalasi luas.

Sebagian opsi juga disebut menargetkan aparat keamanan Iran yang menangani aksi-aksi protes. Namun, otoritas AS menyadari bahwa langkah tersebut dapat berbalik arah, termasuk kemungkinan serangan balasan terhadap personel militer dan diplomat Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah.

Seorang petinggi militer AS yang dikutip NYT mengungkapkan bahwa jika Trump menyetujui serangan, para komandan militer di kawasan membutuhkan waktu tambahan untuk mempersiapkan sistem pertahanan, guna mengantisipasi respons keras dari Iran dan sekutunya.

Menanggapi laporan tersebut, Gedung Putih merujuk pada pernyataan Trump sebelumnya yang memperingatkan keras otoritas Iran. Trump menegaskan akan ada konsekuensi serius jika demonstrasi berujung pada jatuhnya korban jiwa.

Pada Sabtu, Trump bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat siap membantu Iran, pernyataan yang langsung memantik spekulasi global. Di hari yang sama, Reza Pahlavi, putra Shah Iran yang digulingkan pada Revolusi 1979, mengunggah video di platform X yang menyerukan pemogokan umum nasional.

Dalam seruannya, Pahlavi menyebut aksi tersebut sebagai langkah awal untuk merebut dan menduduki jalan-jalan serta fasilitas strategis. Ia juga kembali mendesak Donald Trump agar melakukan intervensi langsung di Iran, memperkuat dugaan adanya tekanan politik dari luar negeri.

Sejak 8 Januari, gelombang protes di Iran dilaporkan melonjak tajam menyusul seruan Pahlavi. Berbagai video di media sosial memperlihatkan demonstrasi besar-besaran yang meluas ke banyak kota, sementara pada hari yang sama akses internet di Iran dilaporkan terputus.

Aksi protes ini bermula sejak akhir Desember 2025, dipicu oleh anjloknya nilai mata uang rial. Para demonstran memprotes fluktuasi kurs yang ekstrem dan dampaknya terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok, baik grosir maupun eceran. Rekaman unjuk rasa di Teheran dan kota-kota besar lainnya pun beredar luas.

Di tengah tekanan tersebut, Gubernur Bank Sentral Iran Mohammad-Reza Farzin dilaporkan mengundurkan diri. Di sejumlah wilayah, aksi protes berkembang menjadi bentrokan dengan aparat kepolisian, disertai seruan terbuka untuk menentang sistem politik yang berlaku.

Situasi kian genting setelah jumlah korban tewas akibat gelombang protes meningkat menjadi 65 orang, berdasarkan laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran (HRANA) pada Sabtu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *