KITAINDONESIASATU.COM – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengungkap alasan di balik antrean kendaraan super panjang di hampir seluruh SPBU pascabencana banjir bandang pada Rabu (26/11). Pemadaman listrik yang masih berlangsung membuat warga panik dan langsung memborong BBM.
“Ada kepanikan, panic buying, masyarakat ramai-ramai beli minyak,” ujar Bupati Aceh Barat, Selasa (9/12).
Listrik yang belum pulih membuat warga berebut membeli BBM, bukan hanya untuk kendaraan, tetapi juga untuk menghidupkan genset di rumah masing-masing. Dampaknya, antrean panjang mengular di setiap SPBU hingga mengacaukan arus lalu lintas.
Parahnya, antrean tak hanya terjadi pagi hingga sore—tetapi berlanjut sampai malam hari. Situasi ini diperparah oleh sebagian warga yang memanfaatkan momen untuk menimbun BBM dan menjualnya kembali dengan harga selangit demi keuntungan pribadi.
Fenomena borong BBM ini makin tak terkendali sejak pemerintah melalui Kementerian ESDM membebaskan pembelian BBM tanpa barcode karena status bencana. Alhasil, stok BBM di banyak SPBU langsung ludes karena pembelian besar-besaran.
Untuk mencegah penimbunan dan penyalahgunaan BBM subsidi, Pemkab Aceh Barat membentuk tim khusus bersama TNI, Polri, dan Satpol PP yang akan memantau ketat seluruh SPBU dan pangkalan gas elpiji.
“Siapa pun yang menjual BBM atau elpiji dengan harga mahal akan ditindak tegas sesuai hukum,” ujar Bupati Tarmizi. (*)


