KITAINDONESIASATU.COM – Laga Arsenal vs Bayern Muenchen di Liga Champions, Kamis (27/11) pukul 03.00 WIB di Emirates, dipastikan jadi duel paling panas pekan ini. Meski Arsenal sedang menggila dengan 15 laga tanpa kekalahan, Mikel Arteta menegaskan satu hal, jangan sampai besar kepala.
Kembalinya Harry Kane ke London Utara jadi bumbu paling mematikan. Bukan lagi striker kotak penalti seperti saat bersama Tottenham, Kane kini berubah jadi mesin permainan Bayern, turun ke lini kedua dan mengatur alur serangan.
Absennya Jamal Musiala membuat pelatih Vincent Kompany memberikan peran lebih besar pada Kane untuk mengatur kreativitas.
Bayern tiba di London dengan modal 17 kemenangan dan hanya sekali imbang dari 18 laga di semua kompetisi. Di balik statistik brutal itu, Kane menjadi pusat serangan sekaligus pembuka ruang bagi nama-nama seperti Serge Gnabry hingga Nicolas Jackson.
“Saya bukan cuma pencetak gol. Saya bisa memengaruhi ritme permainan,” ujar Kane.
Dengan Luis Diaz absen akibat kartu merah, beban sekaligus peluang Kane untuk mendominasi makin besar, baik sebagai kreator maupun eksekutor.
Arsenal datang dengan rekor pertahanan mengerikan, ya belum kebobolan di Liga Champions dan hanya kemasukan enam gol di Premier League.
Bayern justru punya titik lemah menganga: set-piece. Empat gol terakhir yang bersarang ke gawang mereka semuanya dari bola mati.
Ini menjadi peluang bagi Arteta yang terkenal sangat mengandalkan variasi skema bola mati.
“Semua orang lihat kelemahan itu, termasuk Arsenal. Kami harus unjuk karakter,” ujar Kompany.
Nama paling bersinar di kubu Arsenal adalah Eberechi Eze, mencetak tiga gol dalam kemenangan 4-1 di Derby London Utara. Kecepatannya beradaptasi membuat Arteta tak berhenti memujinya.
“Dia bisa mencetak gol dari mana saja, kanan, kiri, bola mati, bola pantul. Ia luar biasa,” kata Arteta. (*)


