KITAINDONESIASATU.COM – Pacu Jalur, tradisi balap perahu panjang dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, kini tak hanya dikenal di Nusantara, tetapi juga mulai mendunia berkat viralnya video-video lomba yang menawan di media sosial. Di balik kemegahan dan kecepatan perahu-perahu ini, tersembunyi proses pembuatan yang panjang, penuh dedikasi, dan sarat nilai-nilai tradisional.
Pembuatan sebuah jalur (perahu) bukanlah pekerjaan mudah, membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa mencapai satu tahun. Bahan utamanya adalah batang pohon pilihan, seperti pohon banio atau mersawa, yang harus berukuran sangat besar dan lurus sempurna. Pencarian dan penebangan pohon ini dilakukan dengan ritual adat yang ketat, menunjukkan penghormatan terhadap alam.
Pembuatan satu perahu pacu jalur, yang menjadi primadona Festival Pacu Jalur di Kuansing, Riau, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Total biayanya bisa mencapai ratusan juta rupiah, bahkan diperkirakan hingga Rp 150 juta per unit.
Angka tersebut mencakup survei dan pengangkutan kayu, upah tukang, serta biaya aksesori dan pengecatan. Sebagian besar biaya ini berasal dari swadaya masyarakat dan donatur.
Setelah pohon tumbang, proses dimulai dengan pemahatan manual untuk membentuk badan perahu. Para pengrajin, yang disebut tukang jalur, bekerja dengan alat sederhana namun presisi tinggi, mengukir dan menghaluskan kayu hingga terbentuk siluet perahu yang ramping dan aerodinamis.
Bagian dalam perahu dilubangi dan dihaluskan, sementara bagian luar dipercantik dengan ukiran dan motif khas Kuansing, seperti naga atau burung elang, yang melambangkan kekuatan dan kecepatan.
Sentuhan akhir adalah pengecatan dan pemasangan aksesoris seperti kemudi dan tempat duduk pendayung. Setiap jalur adalah mahakarya yang mencerminkan kearifan lokal dan semangat gotong royong masyarakat Kuansing, menjadikannya bukan sekadar perahu, melainkan simbol budaya yang hidup.

