KITAINDONESIASATU.COM – Nama Dedi Mulyadi kembali menjadi bahan perbincangan setelah terlibat perdebatan dengan Aura Cinta.
Dalam perdebatan itu, Aura Cinta bersikeras meminta Dedi Mulyadi untuk melonggarkan aturan, agar siswa tetap bisa menyelenggarakan acara wisuda dan perpisahan. Namun, siapa sangka bahwa perdebatan tersebut justru menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat.
Banyak pihak menyoroti sikap dan cara bicara Dedi Mulyadi saat menentang permintaan Aura Cinta terkait acara perpisahan. Hal ini diketahui dari cuitan akun Twitter @mdy_asmara1701 yang dibagikan pada 26 April 2025.
Dalam unggahan tersebut terdapat cuplikan video perdebatan antara Dedi Mulyadi dan Aura Cinta dengan durasi 6 menit 43 detik. “KDM debat sama remaja yang nggak setuju acara perpisahan dihapus. Kurang sreg sama KDM bilang ke adik itu kalau miskin jangan sok kaya,” tulis akun tersebut.
Cuitan ini pun langsung menarik perhatian warganet dan telah ditonton lebih dari 8,6 juta pengguna Twitter.
Beberapa tanggapan warganet lainnya juga bermunculan. Akun @rdtanguh menulis, “Yang bilang perpisahan itu gak penting, dan jadi beban orang tua, hanya orang yang miskin dan malas. Yang menganggap bahwa biaya anak itu beban bukan kewajiban orang tua yang harusnya dinikmati dan diusahakan dengan segala perjuangan.”
Selain itu, akun @v3g3l berkomentar, “Ya kurang pas aja ngomong sama seorang anak gitu.” Sedangkan akun @ayamvssaya menyoroti gaya debat Dedi Mulyadi dengan mengatakan, “Si Dedi motong terus pembicaraan adiknya, padahal belum selesai ngomong.”
Kenapa Dedi Mulyadi Melarang Selebrasi Wisuda di Sekolah?
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjelaskan alasan di balik larangan menggelar acara wisuda untuk anak sekolah. Menurut Dedi, tradisi wisuda seharusnya hanya diperuntukkan bagi lulusan perguruan tinggi seperti S1 atau D3.
“Saya kan melarang kegiatan di sekolah itu kegiatan wisuda, karena wisuda itu menurut saya cocoknya S1 atau D3,” ujar Dedi Mulyadi melalui unggahan di Instagram, Jumat (28/2/2025).
Namun, pada kenyataannya, Dedi melihat bahwa wisuda kini diadakan di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, hingga SMP. Ia khawatir acara wisuda ini akan membebani keuangan orang tua siswa.
“Ini TK diwisuda, SD diwisuda, SMP diwisuda, ini kan ujung wisuda ini pembiayaan lagi, ribut lagi,” kata Dedi.
Sebagai solusi, Dedi mengusulkan agar perayaan kelulusan dilakukan di sekolah, seperti yang dilakukan di masa lalu, dengan mengadakan pertunjukan kreativitas siswa.
“Bisa gak di sekolah itu, kelulusannya misalnya ya di sekolah aja diselenggarakan, seperti zaman dulu kita lah, kelulusan dibikin di sekolah,” lanjutnya.
Dedi Mulyadi Berencana Bangun Gedung Pertunjukkan
Dedi bahkan menyampaikan rencana untuk membangun gedung pertunjukan seni di setiap sekolah. Gedung ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai acara, termasuk perayaan kelulusan.
“Bila perlu nanti pihak provinsi membangun ruang pertunjukan di setiap sekolah,” katanya.
“Kalau sekolahnya luas ya sudah, setiap sekolah akan kami bangunkan gedung pertunjukan,” sambung Dedi.
Gedung tersebut dirancang dengan kapasitas besar, antara 1000 hingga 1500 orang, untuk mendukung berbagai kegiatan sekolah.
“Kapasitasnya misalnya 1000-1500 orang, gak ada masalah nanti secara bertahap nanti kita bangunkan,” jelasnya.
Selain untuk perayaan, gedung pertunjukan itu juga bisa dipakai untuk menonton film edukasi dan menggelar pertunjukan seni.
“Sehingga kegiatan-kegiatan sekolah itu bisa dilaksanakan di sekolah,” ujarnya.
“Di sekolah bisa lihat film yang berkualitas, bisa bikin pertunjukan tari, pertunjukan musik dan sebagainya. Ini ke depan,” tambah Dedi.
Tak hanya itu, Dedi juga menyoroti biaya mahal untuk pembuatan album kenangan siswa yang bisa mencapai Rp450 ribu per anak. Ia menyarankan agar format album tersebut diganti menjadi digital agar lebih hemat dan tidak memberatkan orang tua.

