KITAINDONESIASATU.COM – Rencana FIFA membentuk perusahaan komersial untuk mengelola Piala Dunia memicu gelombang penolakan dari UEFA.
Gagasan yang diusulkan Presiden FIFA Gianni Infantino tersebut membuka peluang masuknya investor swasta melalui penjualan sebagian saham perusahaan baru yang akan mengelola berbagai kompetisi internasional, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.
Kebijakan ini langsung memunculkan perdebatan mengenai transparansi, tata kelola, hingga masa depan turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
Bahkan, sejumlah negara anggota UEFA dikabarkan mulai membahas kemungkinan mengambil langkah tegas apabila rencana tersebut tetap dijalankan.
Rencana FIFA Picu Ketegangan dengan UEFA di Piala Dunia
FIFA berencana membentuk perusahaan bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan menangani aspek komersial berbagai turnamen internasional.
Mayoritas kepemilikan perusahaan tetap berada di tangan FIFA, sementara sebagian saham akan ditawarkan kepada investor dengan nilai perusahaan yang diperkirakan mencapai sekitar 20 miliar dolar AS.
UEFA menilai langkah tersebut berpotensi mengubah tata kelola sepak bola dunia dan mempertanyakan mekanisme serta pihak yang akan memperoleh keuntungan dari penjualan saham tersebut.
Organisasi sepak bola Eropa itu juga berpandangan bahwa pengelolaan Piala Dunia seharusnya tetap berada sepenuhnya di bawah kendali FIFA tanpa melibatkan kepentingan investor swasta.
Sebagai respons, asosiasi-asosiasi anggota UEFA dijadwalkan menggelar pertemuan untuk membahas sikap resmi terhadap rencana tersebut.
Salah satu opsi yang disebut sedang dipertimbangkan adalah aksi boikot terhadap Piala Dunia apabila kebijakan tetap diterapkan.
Perselisihan antara FIFA dan UEFA bukan kali pertama terjadi.
Sebelumnya, kedua organisasi juga memiliki perbedaan pandangan mengenai sejumlah kebijakan, seperti harga tiket Piala Dunia, penerapan jeda hidrasi dalam pertandingan, hingga wacana penambahan jumlah peserta Piala Dunia 2030.






