KITAINDONESIASATU.COM – Perseteruan FIFA dan UEFA memasuki babak baru yang jauh lebih panas. Setelah UEFA membawa kontroversi rencana investasi Piala Dunia Gianni Infantino ke jalur hukum, FIFA kini melancarkan serangan balik dengan menuding adanya kampanye hitam terhadap organisasi dan kepemimpinannya.
Konflik bermula dari kontroversi FIFA Forward Enterprise (FFE), proyek yang sempat dirancang untuk membuka sebagian saham hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. UEFA sebelumnya mengajukan dokumen hukum di Amerika Serikat untuk meminta akses terhadap bukti dan dokumen FIFA sebagai bagian dari potensi proses pidana di Swiss.
UEFA menuding terdapat dugaan pengelolaan yang salah secara pidana serta penetapan harga yang dianggap tidak wajar dalam skema tersebut. Namun, FIFA membantah keras seluruh tuduhan itu.
Dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan Amerika Serikat dan dilihat BBC, FIFA meminta agar pembukaan dokumen ditunda atau ditolak. FIFA menyebut permintaan UEFA memiliki cacat mendasar dan kelemahan hukum.
Tak berhenti di situ, FIFA menuduh UEFA justru melancarkan serangkaian serangan publik setelah tidak memilih jalur proses internal.
Menurut FIFA, FFE ketika itu masih sebatas usulan dan belum menjadi keputusan final. Proyek tersebut disebut hanya dapat berjalan apabila memperoleh dukungan mayoritas asosiasi anggota serta persetujuan Dewan FIFA.
FIFA bahkan melontarkan tudingan yang lebih serius, bahwa UEFA dinilai memiliki kepentingan ekonomi untuk mempertahankan dominasi sepak bola Eropa.
FIFA berargumen bahwa semakin kuat negara-negara berkembang secara finansial, semakin besar pula persaingan terhadap kekuatan pasar UEFA dan turnamen-turnamen elite Eropa.
FIFA juga membela tujuan FFE dengan menyatakan bahwa skema pendanaan tersebut dirancang untuk memperkuat asosiasi sepak bola yang lebih kecil. Harapannya, pemain lokal tidak terus-menerus meninggalkan negara asal dan kompetisi domestik mereka.
Namun, UEFA belum memberikan komentar resmi mengenai tudingan terbaru FIFA. Di tengah panasnya konflik, sumber internal yang dikutip dalam pemberitaan meyakini bahwa jika FIFA memang tidak memiliki sesuatu untuk disembunyikan, pembukaan dokumen justru dapat mempercepat proses hukum.
Kontroversi semakin besar setelah UEFA meminta pengadilan di New York membuka jalan untuk memperoleh kesaksian dan dokumen dari Joshua Kushner, perusahaannya Thrive Eternal, serta penyandang dana Amerika Serikat Greg Maffei.
Kushner sebelumnya direncanakan menjadi investor utama dalam investasi senilai US$4,2 miliar untuk 20% saham anak perusahaan komersial baru FIFA. Namun, rencana tersebut akhirnya dibatalkan setelah memicu gelombang protes pada Juli.
UEFA juga mempersoalkan valuasi hak komersial Piala Dunia. Mereka mengklaim nilainya ditetapkan sekitar £15 miliar tanpa proses lelang terbuka, penilaian independen, maupun konsultasi yang memadai dengan struktur internal FIFA.
Di tengah pusaran konflik tersebut, Kushner akhirnya buka suara dan mengaku menyesali keterlibatannya.
Ia mengatakan pihaknya mendukung tujuan FFE, tetapi tidak memperkirakan dinamika politik sepak bola global dan besarnya tindakan sejumlah pihak yang kemudian terlibat dalam kontroversi.
Kini, pertarungan FIFA dan UEFA bukan lagi sekadar soal sebuah proyek investasi yang dibatalkan. Dua kekuatan terbesar dalam sepak bola dunia tengah berhadapan–dan tuduhan soal kampanye hitam, kepentingan ekonomi, serta perebutan pengaruh global membuat konflik ini berpotensi semakin panjang. (*)




