Sosok

Profil Sri Purnomo, Dari Guru Hingga Bupati Sleman Dua Periode, Kini Tersandung Kasus Korupsi

×

Profil Sri Purnomo, Dari Guru Hingga Bupati Sleman Dua Periode, Kini Tersandung Kasus Korupsi

Sebarkan artikel ini
Sri Purnomo

KITAINDONESIASATU.COM – Sri Purnomo adalah salah satu tokoh penting di Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Kabupaten Sleman. Namanya dikenal luas sebagai mantan Bupati Sleman dua periode yang membawa berbagai perubahan dalam pembangunan daerah.

Namun, belakangan ini namanya kembali menjadi sorotan publik karena terseret kasus dugaan korupsi dana hibah pariwisata.

Latar Belakang dan Pendidikan Sri Purnomo

Sri Purnomo lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1961. Sejak kecil, ia dikenal sebagai pribadi sederhana dan tekun menuntut ilmu. Pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di kampung halamannya sebelum kemudian melanjutkan studi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (kini UIN Sunan Kalijaga).

Setelah meraih gelar Sarjana Muda pada 1984, Sri Purnomo tak berhenti belajar. Ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Islam Indonesia (UII) dan berhasil memperoleh gelar Magister Ekonomi Syariah sekitar tahun 2007. Latar belakang akademik inilah yang menjadi salah satu fondasi kuatnya dalam mengelola pemerintahan berbasis prinsip ekonomi kerakyatan.

Sebelum terjun ke dunia politik, Sri Purnomo memulai kariernya sebagai guru mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di MTsN Sleman pada tahun 1986. Selama hampir dua dekade, ia dikenal sebagai pendidik yang disiplin dan dekat dengan siswa-siswinya.

Selain mengajar, Sri Purnomo juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Ia tercatat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman periode 2006–2010. Aktivitas di Muhammadiyah inilah yang memperluas jaringan sosial dan memperkuat citra kepemimpinannya di masyarakat.

Tak hanya di dunia pendidikan dan organisasi, Sri Purnomo juga sempat berkecimpung di dunia bisnis, terutama di sektor mebel dan properti. Kegiatan wirausahanya membuat ia memahami tantangan ekonomi rakyat dari sisi lapangan.

Perjalanan Politik Sri Purnomo

Langkah Sri Purnomo di dunia politik dimulai ketika ia dipercaya menjadi Wakil Bupati Sleman periode 2005–2010. Kinerjanya yang dianggap solid membuatnya dipercaya untuk maju sebagai calon Bupati pada Pemilihan Kepala Daerah berikutnya.

Pada tahun 2010, Sri Purnomo resmi terpilih sebagai Bupati Sleman, dan kemudian kembali memenangkan Pilkada untuk periode kedua (2016–2021). Kepemimpinannya selama dua periode dianggap membawa berbagai kemajuan, terutama dalam bidang infrastruktur, pelayanan publik, dan pengelolaan sektor wisata.

Beberapa program yang populer di masanya antara lain:

  • Pengembangan wisata berbasis masyarakat, seperti penguatan desa wisata dan promosi wisata alam pasca-erupsi Merapi.
  • Peningkatan pelayanan publik digital, dengan berbagai inovasi sistem administrasi berbasis online.
  • Pemberdayaan UMKM Sleman, terutama yang bergerak di bidang kuliner dan kerajinan.

Kepemimpinan Sri Purnomo dikenal cukup dekat dengan rakyat. Ia sering turun langsung ke lapangan untuk berdialog dengan warga, terutama di daerah terdampak bencana. Gaya kepemimpinannya yang sederhana membuatnya disukai oleh banyak kalangan.

Kehidupan Pribadi dan Peran Keluarga

Sri Purnomo menikah dengan Kustini Sri Purnomo, yang juga aktif di dunia sosial dan politik. Setelah masa jabatan Sri berakhir, sang istri maju dalam Pilkada Sleman 2020 dan berhasil memenangkan kontestasi, melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di kabupaten tersebut.

Pasangan ini dikenal sebagai figur yang religius dan memiliki komitmen terhadap pendidikan serta pemberdayaan masyarakat. Mereka kerap tampil bersama dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di Sleman.

Harta Kekayaan Sri Purnomo

Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) tahun 2021, Sri Purnomo tercatat memiliki kekayaan senilai sekitar Rp 12,3 miliar. Aset terbesar berasal dari tanah dan bangunan senilai lebih dari Rp 8,3 miliar, tersebar di wilayah Sleman dan sekitarnya.

Selain itu, ia juga memiliki kendaraan, perhiasan, serta simpanan kas dan giro. Transparansi pelaporan kekayaannya saat itu sempat diapresiasi karena menunjukkan keterbukaan dalam tata kelola pejabat publik.

Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata

Namun, perjalanan panjang karier Sri Purnomo kini menghadapi ujian berat. Pada 30 September 2025, Kejaksaan Negeri Sleman resmi menetapkan dirinya sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana hibah pariwisata tahun 2020.

Kasus ini berkaitan dengan penyaluran dana hibah sebesar Rp 68,5 miliar untuk kegiatan pariwisata di Sleman. Berdasarkan hasil penyelidikan, diduga terjadi penyimpangan anggaran yang menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 10,9 miliar.

Pihak kejaksaan menyebutkan bahwa sebagian dana hibah tidak digunakan sesuai peruntukannya, dan ada indikasi keterlibatan sejumlah pihak lain. Hingga kini, proses hukum masih berjalan dan publik menantikan hasil akhirnya.

Meski demikian, sebagian masyarakat Sleman tetap berharap agar kasus ini bisa diselesaikan secara adil dan transparan tanpa menghapus jasa-jasa Sri Purnomo selama memimpin daerah.

Citra dan Warisan Kepemimpinan

Terlepas dari kasus hukum yang membelitnya, banyak yang mengakui bahwa Sri Purnomo memiliki kontribusi nyata dalam pembangunan Sleman. Masa pemerintahannya dianggap berhasil memperkuat fondasi pariwisata lokal, memperluas akses pendidikan, dan mendorong digitalisasi pelayanan publik.

Sleman yang kini dikenal sebagai salah satu kabupaten paling maju di DIY tak lepas dari hasil kerja kolektif pemerintahan sebelumnya di bawah kepemimpinannya.

Namun, perjalanan kariernya juga menjadi pengingat bahwa integritas adalah pondasi utama dalam dunia politik. Keberhasilan membangun daerah tidak boleh diwarnai oleh penyalahgunaan wewenang, sekecil apa pun.

Sri Purnomo adalah figur dengan perjalanan karier yang inspiratif sekaligus penuh pelajaran. Dari seorang guru sederhana, aktivis Muhammadiyah, hingga menjabat Bupati Sleman dua periode, ia menunjukkan dedikasi tinggi terhadap pendidikan dan masyarakat.

Sayangnya, karier cemerlang itu kini tercoreng oleh dugaan kasus korupsi yang masih dalam proses hukum.

Bagi masyarakat, kisah Sri Purnomo menjadi cermin penting tentang bagaimana kekuasaan harus diiringi dengan kejujuran dan tanggung jawab moral. Terlepas dari permasalahan yang dihadapi, kontribusinya terhadap Sleman tetap menjadi bagian dari sejarah daerah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *