KITAINDONESIASATU.COM – Mgr Paskalis Bruno Syukur, Uskup Keuskupan Bogor, secara resmi diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus setelah doa Angelus di Vatikan pada Minggu, 6 Oktober 2024.
Penunjukan resmi akan dilakukan dalam Konsistori pada 8 Desember 2024, bertepatan dengan perayaan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda.
Mgr Paskalis Bruno Syukur menjadi satu-satunya kardinal baru dari Indonesia dalam acara tersebut, sekaligus menjadi kardinal pertama dari luar Jawa.
Jabatan kardinal adalah salah satu posisi penting dalam hierarki Gereja Katolik. Kardinal memiliki peran penting, seperti memilih paus, memberi nasihat kepada paus, serta membantu memimpin Gereja Katolik di seluruh dunia.
BACA JUGA : Profil Derry Fransakti, Suami Selebgram Afifah Riyad Diduga Lakukan KDRT
Kardinal juga dikenal sebagai “Pangeran Gereja” dan mengenakan busana khas berwarna merah.
Profil Mgr Paskalis Bruno Syukur
Mgr. Paskalis Bruno Syukur O.F.M, lahir pada 17 Mei 1962 di Ranggu, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT, adalah uskup Keuskupan Bogor yang berasal dari ordo Fransiskan. Selain menjadi uskup, ia juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).
[ruby_related heading=”Baca Juga” total=5 layout=1 offset=5]
Pendidikan awalnya dimulai di SMP Manggarai Timur, dilanjutkan di Seminari Pius XII, Kisol, Manggarai Timur pada tahun 1975.
Pada tahun 1981, ia memulai pendidikan novisiat di Ordo Saudara Dina, Papringan, Depok, Yogyakarta dan resmi menjadi novisiat pada 15 Juli 1982. Setahun kemudian, ia menjalani profesi pertamanya.
Pada tahun 1983, Mgr. Bruno melanjutkan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Ia mengucapkan profesi kekalnya pada tahun 1989 dan ditahbiskan menjadi imam pada 2 Februari 1991 di Paroki Santa Maria Ratu Para Malaikat oleh Uskup Bogor, Mgr. Ignatius Harsono. Setelah tahbisan, ia bertugas sebagai Pastor Pembantu di Paroki Moanemani, Keuskupan Jayapura hingga 1993.
Mgr. Bruno melanjutkan pendidikannya di Roma, Italia (1993-1996), mempelajari spiritualitas Fransiskan. Ia kemudian menjadi Pastor Paroki di Paroki Santo Herculanus, Depok, hingga tahun 2001.






