KITAINDONESIASATU.COM – Jika Anda pernah mendengar nama Sutarmidji, mungkin langsung teringat dengan inovasi birokrasi, pelayanan publik terbaik, atau sosok pemimpin tegas yang membenahi Kota Pontianak hingga Provinsi Kalimantan Barat.
Profil Sutarmidji
Sutarmidji lahir di Pontianak pada 29 November 1962. Ia merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara, tumbuh di lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya adalah pegawai Kementerian Agama yang aktif di Masyumi, partai Islam terbesar di zamannya. Karakter pekerja kerasnya terbentuk sejak kecil, mengingat ia juga membantu keluarga dalam berbagai aktivitas ekonomi rumahan.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SDN 54 Pontianak pada tahun 1974, kemudian melanjutkan ke SMPN 1 Pontianak lulus tahun 1977, dan SMA Santo Paulus lulus pada 1981. Setelah itu, ia memilih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura (Untan) dan lulus tahun 1986 dengan gelar Sarjana Hukum.
Tidak berhenti di situ, Sutarmidji melanjutkan pendidikan Magister Humaniora di Universitas Indonesia dan lulus pada 1993. Saat kuliah S2, ia sempat berjualan koran, tiket kapal, hingga bawang putih impor untuk membiayai kuliahnya. Jiwa mandiri dan entrepreneurial inilah yang menempanya menjadi pemimpin visioner.
Karier Akademik Sutarmidji
Usai menuntaskan S1, Sutarmidji mengabdikan dirinya sebagai dosen Hukum di Fakultas Hukum Untan sejak 1987 hingga 2000. Selama periode ini, ia dikenal sebagai pengajar yang disiplin dan dekat dengan mahasiswa.
Baginya, pendidikan adalah kunci utama pembangunan daerah. Maka, setelah menjadi pejabat publik, ia tetap menekankan kebijakan berbasis pendidikan untuk masyarakat.
Awal Karier Politik Sutarmidji
Karier politik Sutarmidji dimulai ketika bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada 1997. Pada tahun yang sama, ia terpilih menjadi Anggota DPRD Kota Pontianak. Tugas legislatif dijalaninya selama 6 tahun hingga 2003. Saat itu, banyak rekan menilai Sutarmidji memiliki kapabilitas eksekutif, sehingga pada 2003 ia diusung menjadi Wakil Wali Kota Pontianak mendampingi Buchary Abdurrachman hingga 2008.
Menjadi Wali Kota Pontianak Dua Periode
Tahun 2008, Sutarmidji terpilih menjadi Wali Kota Pontianak dan menjabat hingga 2013. Karena prestasinya yang luar biasa, ia kembali terpilih untuk periode kedua hingga 2018. Ada banyak gebrakan yang membuat nama Sutarmidji dikenal nasional sebagai wali kota inovatif, antara lain:
Reformasi birokrasi total. Dari semula 99 jenis izin, dipangkas menjadi hanya 14 izin untuk mempercepat pelayanan publik.
Transparansi anggaran. Pemkot Pontianak menjadi salah satu yang paling terbuka di Indonesia dengan konsep open budget.
Pendapatan daerah melonjak. Dari hanya Rp65 miliar pada awal kepemimpinannya, naik drastis menjadi Rp960 miliar pada 2015.
Digitalisasi pelayanan publik. Meluncurkan aplikasi seperti SIPPohon untuk memantau polusi dan penanaman pohon secara real time.
Penghargaan nasional. Pada 2015, Kota Pontianak mendapat predikat pelayanan publik terbaik, dan pada 2017 ia dinobatkan sebagai Wali Kota Terbaik se-Indonesia.
Selain itu, ia juga membenahi pasar tradisional, kawasan kumuh, dan menata parkir berbasis digital dengan aplikasi GencilPay, yang memudahkan pembayaran retribusi dan parkir.
Sutarmidji Menjabat Gubernur Kalimantan Barat
Melihat prestasi gemilangnya di Pontianak, Sutarmidji diusung menjadi Gubernur Kalimantan Barat ke-9. Ia terpilih pada Pilgub 27 Juni 2018 dengan raihan 51,55% suara sah, bersama wakilnya, Ria Norsan. Masa jabatannya berlangsung hingga 5 September 2023.
Sebagai gubernur, program utamanya meliputi:
Transparansi APBD. Ia mengaudit defisit Rp600 miliar pada 2018 dan menata ulang anggaran agar tepat sasaran.
Pemekaran wilayah. Sutarmidji mendukung pembentukan Provinsi Kapuas Raya untuk pemerataan pembangunan di Kalbar.
Peningkatan infrastruktur. Fokus pada jalan provinsi, irigasi pertanian, dan penanggulangan banjir.
Peningkatan layanan kesehatan. Mendorong akreditasi RSUD dan penyediaan alat kesehatan modern.
Penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dengan membangun kanal dan sumur pompa permanen di lahan gambut untuk mencegah kebakaran.
Kehidupan Pribadi Sutarmidji
Sutarmidji menikah dengan Lismaryani dan dikaruniai tiga anak. Salah satu putrinya, Dytha Damayanti Pratiwi, mengikuti jejak politiknya dengan terpilih menjadi anggota DPRD Pontianak pada 2024. Setelah sebelumnya berkarier di PPP, pada 2025 ia tercatat bergabung dengan Partai NasDem.
Kontroversi Terbaru
Di balik kiprahnya yang bersih, tegas, dan reformis, Sutarmidji menghadapi tantangan serius pada Juni 2025. Ia menjalani penyidikan oleh Kejaksaan Tinggi Kalbar terkait dugaan korupsi dana hibah ke Yayasan Mujahidin Pontianak. Kasus ini masih dalam tahap penyidikan dan belum ada keputusan hukum tetap. Banyak pihak berharap proses hukum berjalan transparan dan adil tanpa mengurangi apresiasi publik atas jasa-jasanya membangun daerah.
Sutarmidji adalah sosok pemimpin yang lahir dari kerja keras, pendidikan, dan komitmen pada transparansi serta pelayanan publik. Dari seorang anak pegawai Kemenag, dosen hukum, wakil wali kota, wali kota terbaik nasional, hingga gubernur Kalimantan Barat, jejak langkahnya membuktikan pentingnya kepemimpinan bersih dan inovatif. Meski kini menghadapi kasus hukum, kontribusinya pada reformasi birokrasi dan pembangunan Kalbar tetap dikenang masyarakat.
Jika Anda tertarik mempelajari lebih banyak tentang kebijakan reformasi birokrasi daerah dan studi kepemimpinan, kisah Sutarmidji bisa menjadi contoh nyata bagaimana integritas, inovasi, dan keberanian menghadirkan perubahan.




