KITAINDONESIASATU.COM-Kendati Pajak Pertambahan Nilai (PPN) hanya naik satu persen atau menjadi menjadi 12 persen, namun kebijakan tersebut akan memberikan dampak yang cukup berat kepada para pengusaha, termasuk pengusaha ritel.
Hal itu diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin seusai hajatan Musyawarah Nasional (Munas) VIII Aprindo di Tangerang Selatan, Minggu (17/11/2024).
Meski hanya naik satu persen, namun hal itu tetap harus menjadi perhitungan, terlebih saat ini daya beli masyarakat terbilang sedang dalam kondisi lesu. “Tapi yang saya bilang tadi, jangan hanya melihat satu persen ya, karena dari 11 persen menjadi 12, persentesenya adalah satu per sebelas,” ungkap Solihin sang Corporate Affairs Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart) kepada wartawan.
Solihin menjelaskan bahwa kenaikan PPN nantinya akan ditanggung oleh masyarakat selaku konsumen.“Jangan bilang satu persen mah kecil, tapi itu yang menanggung nantinya adalah pembeli loh,” katanya.
Meski dengan hadirnya kebijakan kenaikan PPN ini pengeluaran masyarakat akan semakin naik, namun ia tetap menaruh harapan besar perekonomian Indonesia semakin membaik sesuai target yang telah ditetapkan pemerintah.
“Kalau pengeluaran naik ya kita berharap dan yakinlah dengan kepemimpinan presiden kita, perekonomian semakin hari semakin baik tentunya harus diupayakan oleh seluruh stakeholder yang ada termasuk Aprindo,” ujarnya.
Seperti diberitakan pemerintah telah mengumumkan akan menerapkan kenaikan PPN menjadi 12 persen. Kenaikan PPN dari yang sebelumnya 11 persen menjadi 12 persen tersebut akan mulai diterapkan mulai 1 Januari 2025.
Pemerintah menyatakan bahwa kenaikan PPN menjadi 12 persen masih sesuai dengan Undang-Undang nomor 7 tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP).
Setelah mendapat mandat sebagai Ketua Umum Solihin berjanji untuk menjadikan Aprindo sebagai organisasi yang inklusif, progresif, dan berdaya saing tinggi dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Salah satunya, adalah dengan mendorong ritel modern dan tradisional untuk beradaptasi dengan transformasi digital.
“Kita bahkan akan memperkuat kolaborasi anggota dan membangun solidaritas di antara anggota untuk mendorong inovasi dan daya saing industri ritel. Ini eranya kolaborasi. Dan kita pastikan itu juga bisa terjadi di Aprindo,” kata Solihin.
Dan yang tidak kalah pentingnya, lanjut Solihin, akan intens menyuarakan aspirasi anggota DPD dan DPC dari Aceh hingga Papua, serta mengadvokasi kebijakan yang mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan sektor ritel di tingkat nasional maupun daerah.
