Opini Kita

Sainstisasi Tradisi Serasan Sekundang: Bagaimana Wujudnya?

×

Sainstisasi Tradisi Serasan Sekundang: Bagaimana Wujudnya?

Sebarkan artikel ini
SYAWAL
Dr. M.Syawaludin.

Dari perspektif keagamaan, Serasan Sekundang tidak dapat dilepaskan dari karakteristik budaya Melayu-Islami. Tradisi masyarakat Muara Enim menunjukkan bagaimana nilai-nilai adat tidak bertentangan dengan Islam, melainkan saling melengkapi.

Prinsip seperti “adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah” menjadi dasar relasi harmonis antara norma adat dan norma syariat. Kegiatan-kegiatan seperti pengajian bersama, gotong royong membersihkan masjid, membantu fakir miskin saat Ramadan, dan mendamaikan pertikaian keluarga menunjukkan integrasi antara nilai ukhuwah, ta’awun, dan musyawarah dalam bingkai Serasan Sekundang.

Nilai-nilai ini telah membentuk Islam lokal yang berakar pada budaya dan mendorong umat untuk hidup beragama secara sosial, santun, dan kontekstual.

Dalam era globalisasi dan transformasi sosial, penting untuk membawa falsafah-falsafah lokal seperti Serasan Sekundang ke dalam ranah ilmiah, melalui proses yang disebut sainstisasi tradisi. Sainstisasi berarti menjadikan nilai dan praktik tradisional sebagai objek kajian ilmiah, dengan pendekatan metodologis yang dapat diuji, dijelaskan, dan dikembangkan.

Proses ini menjadikan Serasan Sekundang tidak hanya sebagai simbol budaya, tetapi sebagai sumber pengetahuan lokal (local wisdom) yang memiliki kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu sosial, pendidikan karakter, kebijakan publik, dan keagamaan kontekstual.

Dalam hal ini, nilai-nilai tradisi menjadi tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diperkuat secara teoritis dan empiris dalam kerangka ilmu pengetahuan modern.

Untuk mendekati tradisi ini secara ilmiah, pemikiran Alfred Schutz menjadi salah satu pendekatan teoritis yang relevan. Schutz dalam teori fenomenologi sosialnya memperkenalkan konsep “dunia kehidupan” (Lebenswelt)—yakni realitas sosial yang dipahami dan dijalani bersama oleh individu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Serasan Sekundang adalah pengetahuan sosial yang terbentuk melalui proses intersubjektif dalam kehidupan komunitas.  Melalui pendekatan ilmu pengetahuan, Serasan Sekundang dapat dipahami sebagai bagian dari ilmu pengetahuan lokal (local knowledge) yang bernilai epistemologis dan dapat disainstisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *