Kembali pada kontradiksi statemen PFG vs RA, sebaiknya kita tunggu saja siapa yang memang berbohong dalam hal tsb, karena kalau melihat Rekam jejaknya PFG rasanya sulit dikatakan beliau yang berbohong, atau minimal lebay dalam menulis di akun SosMednya. Bagaimana dengan RA? Publik tentu tidak lupa juga dengan kasus “Doktor HC abal-abal” yang sempat digunakannya juga beberapa waktu lalu, sehingga kasus tersebut kerap menjadi olok-olok Netizen, selain kata “laundry” (?) yang kerap disematkan kepadanya ketika mengomentari bisnis RA yang disinyalir oleh Netizen karena kedekatan dengan oknum penguasa.
Kesimpulannya, sebagai seseorang yang pernah juga berkesempatan mengendarai mobil dinas berNopol “RI” (saat itu yang digunakan adalah RI-45 di Kabinet Indonesia Bersatu II), penulis juga memberikan saran kepada SesKab Mayor Teddy untuk sebaiknya Pemerintah menertibkan kembali penggunaan plat nomor khusus “RI” tersebut, setidaknya mengurutkan sesuai “hirarki” yang lazim diterima oleh akal sehat alias nurul masyarakat, tidak lagi “meloncat-loncat” ada Utusan khusus bisa mendapatkan Nopol yang sepantasnya untuk Menteri. Ini memang soal sepele tampaknya, tetapi dari hal-hal kecil inilah Indonesia kalau tidak ditertibkan akan menjadi semakin kacau dan amburadul, sebagaimana ada seorang mantan yang masih terus mendapatkan pengawalan (dan berlagak masih berkuasa) sampai sekarang … Terwelu.
)* Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes – “RI-45 pada jamannya”, Pemerhati Multimedia, Telematika, AI & OCB Independen – Jakarta, 14 Januari 2025
