… lanjutan Surat ti Palmira
Kepedulian Hadi terhadap masalah kemanusiaan dan masalah sosial tergambar dari cara Hadi menceritakan perang yang terjadi di kota Aleppo dan kota Palmyra secara keseluruhan, meskipun Hadi belum pernah ke sana namun Ia dapat menceritakan dengan sangat baik hanya berbekal membaca berita tentang Suriah.
Hal ini terlihat dari cara Hadi menggambarkan kondisi Palmyra yang luar biasa dengan mengatakan bahwa beberapa situs budaya rusak akibat perang, salah satunya Teater Romawi yang pernah digunakan sebagai tempat eksekusi publik. Carpon yang terasa seperti film ini membuat pembacanya terhanyut sehingga merasa seolah tengah berada dalam suasana peperangan.
Kota Palmyra yang mempunyai julukan kota kuno dan telah dijadikan cagar budaya dunia oleh UNESCO merupakan suatu hal yang penting untuk dilindungi dan diperhatikan oleh kita semua. Adanya peperangan yang menghancurkan bangunan bersejarah membuat semua pihak khawatir karena merupakan salah satu pusat kebudayaan terpenting di dunia.
Palmyra terkenal dengan adanya bekas reruntuhan zaman Yunani-Romawi Kuno, sisa-sisa kebudayaan yang telah berusia ribuan tahun patut menjadi pusat pengetahuan umum bagi seluruh masyarakat dunia khususnya bagi masyarakat Syria. Diangkatnya isu perang di Palmyra oleh penulis ini menjadi penting karena membahas sesuatu yang berarti, yaitu bagaimana kisruhnya saat terjadi perang dan sesudahnya.
Warisan-warisan budaya dari masa lampau menjadikan kota Palmyra penuh akan pengetahuan, baik itu kebudayaan maupun kemanusiaan, bahkan disebut juga sebagai salah satu sejarah dunia yang sangat penting. Namun beberapa tahun ini kota Palmyra masih dalam tahap restorasi setelah peperangan.
UNESCO menyebut perang di Palmyra merupakan salah satu tindakan penghapusan budaya, upaya menghilangkan pengetahuan, identitas, dan sejarah bangsa Suriah yang dilakukan oleh kelompok radikal.
Selain menghancurkan kemanusiaan, mereka menyebut bangsa Suriah dari masa lampau hingga masa mendatang. ISIS telah menghancurkan beberapa situs bersejarah di Irak, yang oleh UNESCO disebut sebagai kejahatan perang dan pembersihan budaya.
Baca juga: Rangkuman Carpon: Pupuhu di Gunung Tilu (2020) Karya H.D Bastaman
Itulah tadi gambaran dari isi carpon Surat ti Palmira, semoga dapat memberikan gambaran tentang isi dari cerita tersebut dan juga dapat menambah pengetahuan dari pembaca.
Ditulis Oleh: Tri Harunnisya
Diterjemahkan & disunting oleh: BiiHann ^^
