Newsberita utama

Viral Balita Menangis di Gunung Prau, Orang Tua Minta Video Dihapus karena Beban Moral

×

Viral Balita Menangis di Gunung Prau, Orang Tua Minta Video Dihapus karena Beban Moral

Sebarkan artikel ini
balita
Ilustrasi.

KITAINDONESIASATU.COM – Video seorang balita menangis di dalam tenda kawasan Gunung Prau, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menjadi sorotan setelah diduga ditinggal orang tuanya yang menuju puncak. Rekaman tersebut menyebar luas di media sosial dan memunculkan perhatian terhadap keselamatan anak saat pendakian.

Pengelola Basecamp Gunung Prau via Patak Banteng, Solichun, menjelaskan bahwa orang tua balita telah mendatangi basecamp pada Sabtu, 17 Oktober 2026, untuk memberikan klarifikasi. Peristiwa itu diketahui terjadi pada Kamis, 15 Oktober 2026. Saat ini, balita tersebut telah kembali bersama orang tuanya dalam kondisi baik.

Kronologi Balita Menangis di Dalam Tenda

Berdasarkan penjelasan pengelola, rombongan pendaki asal Semarang itu mulai mendaki pada Rabu, 14 Oktober 2026. Rombongan terdiri atas kedua orang tua, seorang balita, dan sejumlah teman mereka.

Peristiwa bermula ketika orang tua balita memutuskan menuju puncak setelah mendapat informasi bahwa perjalanan dapat ditempuh sekitar 30 menit. Saat itu, anak mereka sedang tertidur di dalam tenda. Sebelum pergi, orang tua tersebut disebut telah menitipkan anak kepada seorang teman yang berkemah di tenda sebelah.

Namun, ketika balita terbangun, orang yang dititipi untuk menjaga ternyata juga sedang tertidur. Karena tidak menemukan orang tuanya, anak tersebut menangis hingga menarik perhatian pendaki lain di sekitar lokasi. Pendaki yang mengetahui kejadian itu kemudian berusaha menenangkan balita sambil menunggu orang tuanya kembali.

Solichun menyebut viralnya video tersebut menjadi beban moral bagi keluarga, terutama karena wajah anak tidak disamarkan. Orang tua balita berharap rekaman itu dihapus agar penyebarannya tidak semakin luas dan dampaknya terhadap anak dapat diminimalkan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi pendaki agar memastikan anak selalu berada dalam pengawasan orang dewasa yang benar-benar siap menjaganya. Penitipan sementara perlu disertai komunikasi dan kepastian bahwa penjaga tetap terjaga.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau mempertimbangkan privasi anak sebelum membagikan ulang rekaman yang memperlihatkan mereka dalam situasi rentan. Perlindungan identitas anak penting agar kejadian tersebut tidak terus membebani kehidupan mereka di kemudian hari.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *