Dari sektor media, para praktisi menekankan pentingnya penguatan kompetensi komunikasi publik, public speaking, literasi media, serta pengalaman riset maupun mini project agar mahasiswa lebih siap menghadapi tuntutan industri media dan komunikasi.
Arif Affandi menegaskan seluruh masukan yang disampaikan akan menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan kurikulum Program Studi Ilmu Politik UNESA.
“Kami ingin membangun kurikulum yang adaptif, yang tidak hanya menghasilkan lulusan berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh pemerintah, lembaga legislatif, penyelenggara pemilu, media, maupun sektor lainnya. Kolaborasi dengan para stakeholder akan terus kami perkuat agar proses pembelajaran semakin kontekstual dan berdampak,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur, Sokip, yang turut hadir dalam forum FGD tersebut, menggarisbawahi pentingnya penguasaan teknologi bagi mahasiswa, khususnya dalam mendukung proses jurnalistik dan pembuatan konten.
“Memiliki kemampuan teknologi menjadi hal yang wajib bagi teman-teman mahasiswa Ilmu Politik di tengah derasnya arus informasi. Selain mampu menjadi filter informasi, mereka juga harus memiliki kemampuan analisis hingga mampu memproduksi konten secara cepat dan tepat,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang berlangsung sangat pesat menuntut setiap individu untuk mampu beradaptasi dengan cepat. Karena itu, SMSI Jawa Timur menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan Program Studi Ilmu Politik UNESA dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi, jurnalistik, dan produksi konten digital.(*)





