News

Transformasi Program KB: Dari Pengendalian Penduduk Menuju Pembangunan Keluarga Inklusif

×

Transformasi Program KB: Dari Pengendalian Penduduk Menuju Pembangunan Keluarga Inklusif

Sebarkan artikel ini
kencana
Sosialisasi Quick Win Kemendukbangga/BKKBN dalam kegiatan sosialisasi Program Keluarga Berencana di Balaidesa Gunung Putri, Kabupaten Bogor. (KIS/ist)

Dari pihak Kemendukbangga/BKKBN,dr. Sofyan Zakaria menekankan pentingnya jaminan akses kontrasepsi bagi Pasangan Usia Subur (PUS). Menurutnya, program KB terbukti efektif menekan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kualitas keluarga.

“Tahun 1970-an, angka fertilitas total (TFR) di Indonesia mencapai 5,1 – artinya satu keluarga rata-rata memiliki lima hingga enam anak. Kini di Jawa Barat rata-rata dua anak per keluarga. Ini berkat peran besar program KB,” ujar Sofyan.

Ia menambahkan, penggunaan alat kontrasepsi modern di Jawa Barat telah mencapai 63 persen.

“Program KB memberikan banyak manfaat, seperti mencegah kelahiran yang tidak direncanakan, menghemat biaya hidup, menurunkan risiko kematian ibu dan anak, serta meningkatkan kualitas perempuan,” katanya.

Sofyan juga mengingatkan pentingnya memilih metode kontrasepsi sesuai kebutuhan.

“Usia 45 tahun ke atas tidak disarankan menggunakan suntik KB karena berisiko menyebabkan tekanan darah tinggi,” ujarnya.

Dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kabupaten Bogor, Munandar menambahkan, berbagai program pemberdayaan ekonomi keluarga menjadi bagian penting dari upaya pencegahan stunting.

“Serapan tinggi MBG (Mandiri Berkembang Gotong Royong) menunjukkan pergerakan ekonomi masyarakat melalui koperasi Merah Putih, dapur dashat, dan desa merah putih sebagai pilot project MBG dengan target 500 SPPG,” ujarnya.

Munandar juga menyebutkan, angka stunting di Kabupaten Bogor menurun menjadi 18,9 persen pada Juli lalu. “Stunting adalah gagal tumbuh dalam waktu lama. Banyak yang mengira stunting itu pasti pendek, padahal tidak semua anak pendek mengalami stunting. Karena itu, kami melakukan pendampingan mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun,” paparnya.

Selain pendampingan gizi dan kesehatan ibu hamil, ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam pengasuhan anak, terutama bagi anak-anak yang mulai memasuki masa remaja. (Nicko)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *